PN Batam Vonis Bebas WN China Terdakwa Kasus Jasad WNI ABK di Freezer

Audrey Santoso - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 16:14 WIB
Song Chuanyun (tengah) pelaku penganiaya WNI ABK Kapal China Lu Huang Yuan Yu 118 ditangkap.
Song Chuanyun (tengah) pelaku penganiayaan WNI ABK kapal China Lu Huang Yuan Yu 118 ditangkap. (dok. Istimewa)
Jakarta -

Pengadilan Negeri (PN) Batam menjatuhkan vonis bebas WN China Song Chuanyun alias Song, terdakwa penganiaya warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) Lu Huang Yuan Yu 118. Seperti diketahui, aparat menemukan jenazah WNI ABK di dalam freezer kapal berbendera China tersebut awal Juli 2020.

Berdasarkan penelusuran detikcom pada situs resmi PN Batam, perkara penganiayaan WNI ABK di kapal Lu Huang Yuan Yu 118 terdaftar dengan nomor 823/Pid.B/2020/PN Btm. Perkara itu disidangkan pertama kali pada Selasa (3/11/2020) dengan nama terdakwa Song Chuanyun alias Song, dan jaksa penuntut umum Rumondang Manurung.

Song, yang merupakan mandor kapal Lu Huang Yuan Yu 118, didakwa melakukan penganiayaan yang mengakibatkan WNI ABK Hasan Apriadi meninggal dunia.

Mulanya Hasan bersama sembilan WNI mendaftarkan diri sebagai pekerja di kapal ikan asing lewat PT Mandiri Tunggal Bahari pada Oktober 2019. Mereka lalu mengikuti pelatihan basic safety training selama tiga hari di perusahaan tersebut pada November 2019.

Korban Hasan bersama rekan-rekannya kemudian diterima kerja oleh perusahaan dengan perjanjian bekerja selama 24 bulan, terhitung sejak 1 Januari 2020 hingga 1 Januari 2022 dengan gaji USD 300 per bulan. Namun, dalam perjanjian, PT Mandiri Tunggal Bahari juga meminta upah para WNI ABK itu dipotong biaya pengurusan dokumen sebesar USD 600 dan biaya uang jaminan USD 800.

Mereka lalu diberangkatkan dari Tegal ke Jakarta pada 29 Desember 2019. Setiba di Jakarta, mereka lalu diinapkan sehari dan di hari berikutnya terbang ke Singapura menggunakan pesawat. Setiba di Negeri Singa, Hasan dan WNI ABK lainnya dijemput pihak agen dan diantar ke pelabuhan untuk naik ke kapal Lu Huang Yuan Yu 118 berbendera Singapura, yang merupakan kapal pemancing cumi-cumi.

Di atas kapal, Hasan ditanyai dengan bahasa isyarat oleh atasan soal kemampuan memancing, namun dia mengatakan tak bisa memancing. Akhirnya Hasan diajari cara memancing oleh terdakwa Song. Setelah diajari, Hasan diminta mengulangi yang telah diajarkan dan apabila salah, terdakwa Song memukul punggung belakang dengan tangan atau dengan tendangan.

Rabu (1/1/2020) pukul 08.00 waktu Singapura, kapal Lu Huang Yuan Yu 118 berbendera Singapura berangkat menuju tempat pemancing di perairan laut Argentina dengan lama perjalanan 35 sampai 40 hari. Terdakwa Song menyuruh korban dan rekan-rekannya serta anak buah kapal berkewarganegaraan Filipina merakit alat pancing, memasang landasan cumi untuk diletakkan di robot pancing, mempersiapkan alat pancing, gerinda jalur cumi, mengecat kapal, dan membersihkan kapal Lu Huang Yuan Yu 118. Terdakwa kembali menganiaya para ABK bila melakukan kesalahan.

Simak kasus penganiayaan WNI ABK di kapal China selengkapnya di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3