Round-Up

SBY Turun Gunung Saat Manuver Kudeta Mengintai Sang Putra

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 05:30 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato refleksi akhir tahun di JCC, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Foto: SBY (Agung Pambudhy)

Secara singkat, setidaknya ada 5 poin yang disampaikan SBY perihal isu kudeta terhadap kepemimpinan AHY, yang tak lain adalah putranya. Pertama, SBY menegaskan bahwa Partai Demokrat tidak akan dijual, berapa pun uang yang ditawarkan.

Kedua, titah SBY untuk mengusir kader internal yang terlibat isu kudeta Demokrat. Ketiga, soal nama-nama yang diyakini SBY dicatut terkait isu kudeta. Ada nama Menko Polhukam Mahfud Md, Menkum HAM Yasonna H Laoly, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kepala BIN Budi Gunawan.

Nah, poin keempat dan kelima kemudian menjadi berkepanjangan. Poin keempat, yakni SBY menilai Moeldoko tidak memiliki integritas seperti yang dimiliki Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kelima, apa yang dilakukan Moeldoko terhadap Partai Demokrat merugikan nama baik Presiden Jokowi.

"Secara pribadi, apa yang dilakukan Moeldoko adalah di luar pengetahuan Presiden Jokowi. Saya juga yakin bahwa Presiden Jokowi miliki integritas yang jauh berbeda dengan perilaku pembantu dekatnya itu," tutur SBY, seperti dalam video.

"Partai Demokrat justru berpendapat apa yang dilakukan Moeldoko tersebut sangat mengganggu, merugikan nama baik beliau (Jokowi)," imbuhnya.

Moeldoko sendiri sudah merespons pernyataan SBY. Moeldoko awalnya mengira polemik isu kudeta Demokrat sudah usai.

"Memang belum selesai di Demokrat? Saya pikir sudah selesai dan saya nggak ngikutin tuh ya," ujar Moeldoko kepada wartawan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (25/2).

Yang patut dicermati, Mantan Panglima TNI itu seperti menyampaikan peringatan. Moeldoko meminta agar tidak ada pihak yang menekannya.

"Jadi janganlah menekan saya. Saya diam, saya menekankan, dan saya ingin mengingatkan semuanya, karena saya bisa, sangat mungkin, melakukan apa itu, langkah-langkah yang saya yakini," tegas Moeldoko.

"Jadi, saya berharap, jangan menekan saya, karena seperti tadi saya katakan, saya tidak tahu situasi itu. Saya pesan seperti itu saja, karena saya punya hak, seperti apa yang saya yakini. Itu aja," sambung dia.

Halaman

(zak/zak)