Kolom Hikmah

Ikhtiar Mengatasi Kemiskinan

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 06:07 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Negeri ini dalam beberapa tahun telah berhasil menurunkan angka kemiskinan penduduknya, dari tahun 2014 sebesar 28,28 juta atau 11,25% terus menerus setiap tahunnya sampai pada tahun 2019 menjadi 25,14 juta atau 9,41%. Penurunan ini belum signifikan, meski telah melakukan usaha secara maksimal.

Setiap Pemerintahan selalu bercita-cita membuat rakyatnya sejahtera dan makmur. Jika tujuan atas cita-cita tercapai maka kita tidak menemukan rakyat yang kekurangan. Saat pandemi ini berpengaruh pada jumlah penduduk miskin menjadi 27,55 atau 10,19% pada bulan September 2020. Selama lima tahun Pemerintah berhasil mengurangi penduduk miskin sebesar 3,14 juta dan dalam waktu yang singkat karena pandemi, Pemerintah belum mampu mengerem jumlah penduduk miskin justru meningkat sebesar 2,41 juta.

Islam berusaha mengatasi kemiskinan dengan mencari jalan keluar. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan akidah, akhlak dan amal perbuatan, memelihara kehidupan rumah tangga dan mewujudkan persaudaraan sesama kaum muslim. Oleh karena itu, Islam menganjurkan agar setiap individu memperoleh penghidupan yang layak di masyarakat. Tidak dibenarkan adanya seseorang yang hidup di masyarakat dalam keadaan kelaparan, berpakaian tidak layak dan meminta-minta.

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kemiskinan seseorang, tidak lain harus bekerja. Ada peran internal yang merupakan motivasi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan peran eksternal yang merupakan peran Pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Di samping motivasi atau dorongan dari dalam untuk mencari nafkah, sikap malas adalah musuh utama untuk diperangi.

Menurut pandangan Islam bahwa setiap orang yang hidup di masyarakat wajib bekerja atau mencari nafkah. Mereka diperintahkan agar berkelana di muka bumi, laut dan udara untuk mencari nafkah dari Allah yang telah disediakan. Allah berfirman," Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." ( QS. al-Mulk : 15 ).

Mencari nafkah (bisa bekerja sebagai karyawan atau usaha sendiri) adalah senjata utama dalam menerangi kemiskinan. Ajaran Islam mendorong gairah kerja dan berusaha, serta menggugah kesadaran untuk berkelana diatas permukaan bumi.

Segala kebutuhan untuk kehidupan manusia sudah disediakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada surat al-A'raaf ayat 10, al-Israa' ayat 70, Ghaafir ayat 64 dan Huud ayat 6. Semua yang telah disiapkan ini tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan bekerja keras dan usaha sungguh-sungguh.

Sikap malas menjadi penghalang utama dalam mencari nafkah. Kemalasan dan kebodohan merupakan sikap yang harus dikikis. Penyakit hati dalam bentuk kemalasan ini sangat berbahaya, karena berakibat pada kemiskinan dan kebodohan. Bagaimana orang malas mencari nafkah dan malas menggali ilmu berharap hidup bahagia dan makmur?.

Penulis berpendapat bahwa mengatasi kemiskinan adalah :

1. Mendidik seseorang, sehingga diharapkan mempunyai kemampuan/keterampilan teknis. Pendidikan akan mengubah kehidupan seseorang, memudahkan/memperlancar dalam mencari nafkah.

2. Peran Pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja. Karena jumlah angkatan kerja yang cukup besar, selayaknya proyek-proyek yang berbasis labour intensive lebih diutamakan.

Pendidikan bagi semua warga negara, akan menjadikan modal utama untuk mengatasi kemiskinan yang terus meningkat selama pandemi belum berakhir. Orang berpendidikan akan mempunyai peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan, dari pada yg kurang beruntung ( berpendidikan rendah ). Oleh karena itu fokus program Pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan adalah, dg menyediakan pendidikan khususnya pada golongan masyarakat kurang mampu. Berilah kesempatan anak - anak muda golongan kurang mampu bisa menikmati ( lulus ) sekolasi vokasi.

Semoga para pemimpin yang berhubungan dengan kemiskinan ini mempunyai tekad yang teguh untuk menyelesaikannya, sehingga harapan menjadi negeri yang baik dengan limpahan rezeki dari Allah Swt dan tanpa orang miskin akan terwujud.

Aunur Rofiq


Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)