Elite PDIP Hargai Sikap Keras SBY ke Moeldoko soal Isu Kudeta Demokrat

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 13:08 WIB
wakil ketua F-PDIP Hendrawan Supratikno
Hendrawan Supratikno (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersikap tegas kepada Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko yang dia yakini terlibat kudeta PD. Politikus PDIP, Hendrawan Supratikno, menghargai sikap SBY tersebut.

"Spirit mengedepankan etika demokrasi dan etika keadilan (justice as fairness) dari apa yang dikemukakan Pak SBY harus kita hargai. Jangan sampai keadaban demokrasi dan 'sense of justice' kita ditumpulkan dalam kontestasi politik atau perburuan kekuasaan," kata Hendrawan kepada wartawan, Kamis (25/2/2021).

Seperti diketahui, SBY menyakini apa yang dilakukan Moeldoko terhadap Partai Demokrat merugikan nama baik Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden ke-6 RI itu juga menyebut Moeldoko tidak memiliki integritas seperti yang dimiliki Presiden Jokowi.

Menurut Hendrawan, masih ada dua kemungkinan terkait Moeldoko yang disebut-sebut terlibat kudeta Demokrat. Anggota DPR RI itu menuturkan, jika Moeldoko ternyata tidak terlibat kudeta PD, berarti apa yang disampaikan SBY terlalu keras.

"Bila asumsi teman-teman Demokrat terhadap Pak Moeldoko benar adanya, tentu penilaian yang disampaikan Pak SBY ada benarnya. Namun, bila asumsi tersebut tidak benar, sebagaimana disampaikan Pak Moeldoko dan koordinator pertemuan tersebut, maka penilaian Pak SBY mungkin terlalu keras untuk tidak menyebut sedikit berlebihan," sebutnya.

Diberitakan sebelumnya, SBY menyebut langsung nama Moeldoko dalam isu kudeta di tubuh partai. Menurut SBY, Moeldoko merugikan nama baik Presiden Jokowi.

"Secara pribadi, apa yang dilakukan Moeldoko adalah di luar pengetahuan Presiden Jokowi. Saya juga yakin bahwa Presiden Jokowi miliki integritas yang jauh berbeda dengan perilaku pembantu dekatnya itu," tutur SBY dalam sebuah video, Rabu (24/2).

"Partai Demokrat justru berpendapat apa yang dilakukan Moeldoko tersebut sangat mengganggu, merugikan nama baik beliau (Jokowi)," imbuhnya.

(zak/tor)