Cerita Eks Stafsus soal Teman Dekat Edhy Prabowo Minta Pekerjaan

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 23:06 WIB
Mantan Menteri KKP Edhy Prabowo
Edhy Prabowo. (Farih Maulana Sidik/detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK mengungkapkan saat Edhy Prabowo memasukkan nama orang dekatnya ke dalam struktur perusahaan kargo, yakni PT Aero Citra Kargo (PT ACK), untuk mengurus ekspor benur. Bagaimana ceritanya?

Hal itu terungkap dalam berita acara pemeriksaan (BAP) mantan Stafsus Edhy Prabowo, Safri. Jaksa awalnya bertanya tentang Amri dan Nursan, Safri mengaku mengenal mereka karena teman dekat dari Edhy Prabowo.

Jaksa lantas mengonfirmasi BAP Safri tentang Amri dan Nursan yang meminta pekerjaan ke Edhy.

"BAP: Saya dapat cerita dari Amiril Mukminin sekretaris Pak menteri bahwa Amri dan Nursan nggak punya pekerjaan, kemudian yang bersangkutan minta bantu untuk dapat pekerjaan. Saudara Amri adalah teman Pak Edhy yang bekerja di perusahaan Pak Prabowo. Sedangkan Nursan adalah teman dekat pak Edhy Prabowo. Amiril menceritakan ke saya terkait Edhy Prabowo memasukan Amri dan Nursan ke PT ACK," ujar jaksa KPK Siswandono yang diamini Safri.

Safri mengatakan Amiril-lah yang membantu Amri dan Nursan masuk di PT ACK. Amri dan Nursan ditempatkan sebagai nominee di struktur PT ACK terkait ekspor benur.

"Selanjutnya Amiril kordinasi langsung untuk masukan nama tersebut ke pengurusan PT ACK. Setahu saya Amri dan Nursan berhasil dimasukkan pada Juni 2020, diduga masuknya Amri adalah sebagai nominee. Namun saya nggak tahu, itu benar atau tidak cerita Amiril? Benar keterangan saksi?" tanya jaksa KPK lagi.

"Iya. Yakin," jawab Safri.

Safri mengaku tidak mengetahui lebih lanjut tentang Amri dan Nursan. Diketahui, dalam dakwaan jaksa KPK terhadap Suharjito, Edhy Prabowo disebut memasukkan nama Nursan dan Amri, yang keduanya merupakan teman dekat.

Jaksa menyebut keduanya representasi Edhy Prabowo ke dalam struktur kepengurusan PT ACK. Nursan menjabat komisaris dengan saham sebanyak 41,65%, Amri selaku Direktur Utama dengan saham sebanyak 40,65%

"Padahal senyatanya Nursan dan Amri hanya dipinjam namanya sebagai pengurus perusahaan (nominee) serta tidak memiliki saham di PT ACK," kata jaksa dalam surat dakwaan.

KKP Dapat Rp 1.500/ekor Benur

Selain itu, Safri mengungkapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendapat bagian saat ada ekspor benur. KKP disebut mendapat Rp 1.500 per ekor benur.

"BAP: bahwa saya tidak tahu jelas dasar penetapan biaya jasa kargo BBL (benih bening lobster), namun saya tahu dari Andreau, jasa penarikan Rp 1.800 per ekor adalah kesepakatan dengan KKP antara PT ACK. Di mana KKP dapat Rp 1.500 per ekor, sedangkan ACK dapat Rp 300 per ekor. Betul?" ucap jaksa KPK dan dibenarkan Safri.

"Ya, kalau keterangan BAP tetap," ucap Safri membenarkan BAP-nya.

Dalam sidang ini yang duduk sebagai terdakwa adalah Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP), Suharjito. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Suharjito disebut jaksa memberi suap ke Edhy sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

Jaksa menyebut uang suap diberikan ke Edhy melalui staf khusus menteri KKP Safri dan Andrau Misanta Pribadi, lalu Sekretaris Pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Prabowo Iis Rosita Dewi, dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus Pendiri PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Siswadhi Pranoto Loe. Suap diberikan agar Edhy mempercepat perizinan budi daya benih lobster ke PT DPP.

(zap/idn)