Botox-Filler, Segini Tarif Perawatan di Zevmine Skincare Diduga Ilegal

Yogi Ernes - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 22:53 WIB
Polda Metro Jaya gerebek klinik kecantikan ilegal dan tangkap dokter palsu di Jaktim. Klinik Zevline Skin Care ilegal dan dokter kecantikan palsu.
Barang bukti yang disita polisi dari Klinik Zevmine Skincare dan tersangka SW. (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Polisi membongkar klinik kecantikan ilegal 'Klinik Zevmine Skincare' di Ciracas, Jaktim, yang dilakukan dokter abal-abal, tersangka SW alias Y. SW melayani sejumlah jasa perawatan wajah dan kulit, seperti suntik botox dan filler dengan tarif jutaan rupiah.

"Tindakan-tindakan medis yang dilakukan adalah pertama suntik injeksi botok dan injeksi filler dan tanam benang. Jadi variasi (tarifnya) yang dia dapat tergantung dari tindakan yang dilakukan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (23/2/2021).

Yusri mencontohkan, untuk tindakan suntik injeksi botox, tersangka SW mematok tarif mulai dari Rp 2,5 juta. Namun tarif yang dipatok SW akan sangat bergantung pada kesulitan dari permintaan pasiennya.

"Injeksi botox itu sekitar Rp 2,5 sampai Rp 3,5 juta yang dia tarifkan. Ada beberapa juga yang dia tarif untuk tindakan-tindakan yang dilakukan, dan juga ada tindakan yang lain yang cukup mahal termasuk tanam benang itu sampai Rp 6,5 juta," beber Yusri.

Klinik Zevmine Skincare ini sendiri telah beroperasi sejak 2017. Tersangka SW menggunakan media sosial Instagram pribadi dalam memasarkan layanan klinik kecantikan ilegalnya tersebut.

Polisi menyebut SW tidak pernah memiliki ijazah kedokteran. SW berpengalaman dalam tindakan perawatan wajah dan kulit ketika dirinya bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit.

Polisi mengungkap pasien SW berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, beberapa di antaranya public figure.

Kepada polisi, tersangka mengaku sebelum pandemi mampu melayani pasien hingga mencapai 100 orang dalam sebulan. Namun jumlah tersebut menurun 30 persen sejak pandemi berlangsung.

"Sebelum COVID-19 itu rata-rata pasien yang datang 100 orang per bulan, tapi di situasi pandemi ini agak berkurang sekitar 30 orang. Harga tertinggi yang dia dapat mencapai Rp 9,5 juta dari tarifnya. Keuntungan selama 4 tahun ini masih kita hitung," ungkap Yusri.

Atas perbuatannya, pelaku kini dijerat dengan Pasal 77 juncto Pasal 73 ayat 1 dan Pasal 78 juncto Pasal 73 ayat 2 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, dengan ancaman lima tahun penjara.

(ygs/mei)