Cari Tahu Alasan Ramainya Budidaya Ikan Koi di Blitar, Oh Ternyata...

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 11:48 WIB
Pembudidaya Ikan Koi di Blitar
Foto: Ari Saputra
Blitar -

Banyaknya budidaya ikan koi membuat Kabupaten Blitar, Jawa Timur menjadi sentranya ikan hias asal Jepang ini. Setidaknya 260 juta ikan koi sukses diproduksi oleh Blitar sehingga membuat ikon patung ikan koi ditempatkan di sejumlah titik kota.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Adi Andaka mengatakan ikan dengan warna yang cerah ini bisa menjadi primadona di Blitar karena berbagai faktor yang ada di Kabupaten Blitar. Faktor yang paling penting adalah agroklimat, sebab alam yang disediakan oleh Blitar sangatlah bagus dan cocok untuk membudidayakan ikan koi.

"Barangkali kualitas air dan sebagainya, sehingga warna koinya itu bisa cerah seperti yang ada di Jepang dan itu menjadi berkembang. Dan sekitar tahun 1980 sudah berkembang hingga sekarang," kata Adi kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Memang dalam perawatannya ikan koi membutuhkan kondisi air yang pH tidak terlalu tinggi atau berada di kisaran pH 7 dan 7,5. Selain itu koi juga pengaruh oleh kadar oksigen di air dan suhu di air dengan suhu ideal berada di angka 30 derajat celcius.

Hal ini juga disampaikan oleh Ketua Kelompok Beringin Koi, Krisnowo (48) yang berada di Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Menurut Krisnowo untuk mengembangkan ikan koi memang diperlukan lingkungan dan juga kualitas air yang baik.

"Jadi yang mempengaruhi warna ikan koi itu adalah kualitas air. Setiap kolam itu pun bisa berbeda-beda. Bisa juga di lain wilayah, di beda kecamatan bisa saja hasilnya berbeda. Jadi memang kualitas air itu membedakan, mulai dari kadar oksigennya, pHnya itu mempengaruhi," jelas Krisnowo.

Krisnowo menuturkan untuk membuat satu kolam yang mengambil lahan pertanian, biasanya yang dilihat adalah luasan dari tanah. Di Blitar, 1.400 meter persegi sama dengan 100 RU dan itu memakan biaya sebesar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.

"Terus sama biaya listrik, pembuatan sumur, pompa, itu belum termasuk pompa. Kalau Rp 15 juta itu per 100 RU masih belum lengkap. Kalau lengkap itu ada di kisaran Rp 20 juta, itu nanti sudah kolam jadi, pompa, sumur, listrik, sudah beres. Untuk pakan sebulan rata-rata kisaran 50.000," tutur Krisnowo.

Untuk menjaga kualitas ikan koi, Krisnowo juga kerap membeli bibit yang diimpor langsung dari Jepang. Sebab, acapkali keturunan yang tidak langsung dari Negara Sakura membuat kualitasnya akan ikut menurun yang ditandai di bodi ikan dan juga bintik yang menjadi mahkota dari ikan koi.

"Nah, karenanya kita terus melakukan perbaikan dengan mengimpor pejantan dari Jepang setiap 5 tahun sekali," imbuh Krisnowo.

Selain itu, Krisnowo juga menuturkan untuk meningkatkan harga dari ikan koi, para peternak kerap melakukan kontes ikan koi yang selalu diselenggarakan oleh beberapa komunitas dan juga pemerintah.

"Sebenarnya ikan koi itu bisa naik harganya karena ikut kontes. Saya waktu sempat menjual satu ikan koi berukuran 45 cm dengan harga Rp 10 juta," ujarnya.

Selain itu, berkembangnya ikan koi di Kabupaten Blitar juga tak lepas dari andil berbagai pihak, salah satunya Bank BRI. Pemimpin Cabang BRI Blitar Yulizar Verda Febrianto mengatakan BRI berpartisipasi dalam hal pembiayaan di bidang pembudidaya, yang rata-rata dari mereka berada di cakupan usaha mikro.

"Jadi permodalan mereka untuk masyarakat itu bisa ter-cover dengan KUR yang Rp 50 juta atau berkembang sampai Rp 250 juta, nah si ikan koi ini, jadi sudah terkenal, artinya gini, selain pembudidaya, pemda juga terutama kabupaten blitar, men-support juga dalam hal mengekspos ikan koi ini," tandas Yulizar.

Ia juga mengatakan Pemda Blitar berkali-kali mengadakan mengadakan kontes koi di berbagai tempat, termasuk yang terakhir dilakukan di Kampung Coklat.

"Takjubnya adalah para pecinta ikan koi ini mau membayar dengan harga mahal, ketika ikan koi yang menurut mereka menarik itu, menjadi pemenang dalam kontes tadi," pungkasnya.

Sebagai informasi di Desa Sumberingin ada lahan sekitar 30 hektar yang terdiri dari 225 kolam. Di 225 kolam tersebut, terdapat ikan koi kecil (nener) 2.100.000 ekor, ukuran 10- 20 cm, 700.000 ekor dan ukuran 20-25 cm, 70.000 ekor milik anggota peternak.

Dari 30 hektare tersebut, seluas 240 RU atau 3.160m persegi adalah milik dari Kelompok Beringin Koi yang dipimpin oleh Krisnowo.

Lihat juga video 'Adu Lomba Ikan Koi Yuk!':

[Gambas:Video 20detik]



detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/ega)