KSAU soal Pengadaan Alutsista: Perkuat TNI Jaga Kedaulatan Negara

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 12:02 WIB
KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo
Foto: Azhar Bagas Ramadhan/detikcom
Jakarta -

TNI AU menggelar rapat pimpinan (rapim) untuk membahas program kerja tahun 2021. Sesuai komitmen Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, TNI AU akan dukung dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) untuk proses pembangunan kekuatan TNI.

"Menhan RI, Bapak Prabowo Subianto pada Rapim TNI tahun ini, telah menyampaikan komitmennya untuk terus berupaya melaksanakan diplomasi pertahanan dengan negara sahabat, guna mempercepat proses pembangunan kekuatan TNI, melalui belanja berbagai alutsista mutakhir, khususnya untuk matra udara," ujar Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (18/2/2021).

Fadjar menjelaskan pengadaan alutsista ini juga memiliki kontribusi yang signifikan, yakni sebagai salah satu bentuk diplomasi pertahanan yang strategis. Diplomasi strategis dengan negara-negara lain itu akan berpengaruh terhadap konstelasi politik global.

"Perlu kita pahami, bahwa pengadaan alutsista selain bertujuan untuk memperkuat kekuatan TNI dalam menjaga kedaulatan negara, juga memiliki kontribusi yang signifikan, yaitu sebagai salah satu bentuk diplomasi pertahanan yang bernilai strategis dengan negara-negara yang berpengaruh terhadap konstelasi politik global," ucapnya.

Selanjutnya, Fadjar menyebut pengadaan alutsista ini akhir-akhir ini cukup menyita perhatian publik. Fadjar mengakui bahwa pengadaan alutsista ini nyatanya mengalami sedikit keterlambatan karena masih terus perlu direvisi.

"Terkait rencana pengadaan alutsista ini, saya perlu sedikit menjelaskan kepada seluruh jajaran, karena cukup menyita perhatian publik dan memang mengalami sedikit keterlambatan," ujarnya.

"Beberapa kali kita harus melakukan revisi pengusulan alutsista, yang terus disesuaikan dengan berbagai kondisi global dan kemampuan negara. Meskipun kita memiliki pedoman Postur, Renstra, maupun MEF, namun dalam pelaksanaannya sangat bergantung sekali pada berbagai faktor dan kondisi yang terus berubah secara dinamis," tambahnya.

Fadjar menjelaskan keterlambatan itu dikarenakan stakeholder terkait, perlu diskusi dan mengkaji berulang kali untuk menemukan terobosan yang solutif. Hal itu ditujukan untuk mendapatkan alutsista terbaik yang sesuai dengan kemampuan negara dan kondisi TNI AU.

"Seluruh stakeholders mulai dari Kementerian Pertahanan hingga TNI AU, telah berulang kali berdiskusi dan mengkaji, untuk menemukan terobosan yang solutif," katanya.

"Hal tersebut, semata-mata untuk memudahkan langkah kita dalam mendapatkan alutsista terbaik yang memenuhi operational requirement, aspek commonality, mendapatkan Transfer of Technology, serta sesuai dengan kemampuan negara dan kondisi TNI AU," sambungnya.

Mulai tahun ini hingga tahun 2024, TNI AU akan segera merealisasikan akuisisi berbagai alutsista modern secara bertahap. Di antaranya:

- Pesawat multi-role combat aircraft, F-15 EX dan Dassault Rafale
- Radar GCI4
- Pesawat berkemampuan Airborne Early Warning
- Pesawat tanker, yakni Multi Role Tanker Transport
- Pesawat angkut C-130 J
- UCAV berkemampuan MALE
- Dan berbagai alutsista lainnya

Lebih lanjut, Fadjar juga mengatakan akan melaksanakan modernisasi pesawat tempur TNI AU pada tahun ini. Selain itu, Fadjar menegaskan bahwa penambahan alutsista ini ditujukan untuk peningkatan kemampuan secara signifikan.

"Yang menjadi tugas kita sebagai prajurit TNI AU adalah memastikan terjaganya kesiapan operasional matra udara, melalui pembinaan kemampuan personel serta pemeliharaan dan perawatan alutsista, agar terus berada pada level tertinggi," ucapnya.

"Kita harus memastikan kesiapan personel dan satuan dalam mengoperasikan dan memelihara berbagai alutsista matra udara, serta melaksanakan berbagai tugas TNI AU secara profesional dan dengan penuh rasa tanggung jawab," tambahnya.

(isa/isa)