Round-up

Yang Terbaru dari Kasus Rumah Ibu Dino Patti Djalal 'Dijarah'

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 06:18 WIB
Jakarta -

Polda Metro Jaya terus mengusut kasus mafia tanah yang 'menjarah' rumah ibu mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Sejumlah hal baru mulai terungkap dari pengusutan kasus itu mulai dari jumlah tersangka bertambah hingga polisi bentuk tim khusus.

Kasus ini bermula dari Dino Patti Djalal yang mencuit di akun Twitternya soal ibundanya yang menjadi korban mafia sertifikat tanah. Saat dikonfirmasi, Dino menyebut pelaku mencuri sertifikat tanah milik ibundanya dengan menggunakan KTP palsu.

"Itu sudah satu rumah (pertama) jadi korban, kemudian ada satu rumah lagi di daerah Pondok Indah dan juga tahu-tahu sertifikatnya sudah balik nama aja dan balik namanya sudah dua atau tiga kali, ibu saya sama sekali tidak tahu apa-apa," ujar Dino saat dihubungi, Selasa (9/2).

Kasus ini terus bergulir. Bahkan Doni menyebut nama Fredy Kusnadi sebagai dalang sindikat mafia tanah.

Kini kasus mafia tanah tersebut tangani Polda Metro Jaya. Seiring perkembangan pengusutan kasus ini, sejumlah hal baru perlahan mulai terungkap. Berikut rinciannya:

Tersangka Jadi 5 Orang

Polda Metro Jaya kembali menangkap 1 orang terkait kasus mafia tanah yang 'menjarah' rumah ibunda Dino Patti Djalal. Total tersangka menjadi 5 orang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, dari laporan pertama kasus tersebut yang telah diterima polisi pada April 2020, penyidik telah mengamankan lima tersangka.

"Untuk kasus ini sudah tersangka sudah kita amankan. Terakhir subuh tadi ada tersangka yang kita amankan dan ini sudah berjalan. Total semuanya ada 5 tersangka," kata Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Yusri belum memerinci identitas tersangka yang baru diamankan. Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan terkait peran dari pelaku.

"Nanti akan kita sampaikan sementara kita sedang pemeriksaan oleh penyidik. Saya akan jelaskan nanti," ungkap Yusri.

Tonton video 'Dino Patti Djalal Tuding Fredy Playing Victim di Kasus Mafia Tanah':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya di halaman berikutnya>>>

3 Laporan Dino Patti Djalal soal Mafia Tanah Saling Berkaitan

Polda Metro Jaya telah menerima tiga laporan (LP) dari kasus dugaan mafia tanah yang menyasar rumah ibunda mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Polisi menyebut tiga laporan tersebut saling berkaitan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan tiga laporan itu dibagi menjadi tiga klaster. Klaster pertama terkait adanya tindak pidana penipuan sertifikat rumah yang menimpa ibunda Dino Patti Djalal di daerah Pondok Indah.

"Klatster pertama adalah korban sendiri yang merupakan pemilik dari rumah. Siapa pemiliknya? Ini adalah ibu dari saudara DPJ. Itu kasus pertama," kata Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (16/2).

Sementara klaster kedua, yakni laporan pada November 2020 dan menyasar rumah ibunda Dino Patti Djalal yang berada di Kemang. Yusri menyebut belum terjadi kerugian materiil di kasus tersebut. Dia mengatakan di kasus tersebut terjadi adanya penipuan berupa pemalsuan identitas.

Sementara itu, di kasus laporan ketiga yang baru dilaporkan pihak Dino akhir Januari lalu, polisi hingga kini masih melakukan penyelidikan. Dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan gelar perkara untuk menentukan kasus tersebut apa bisa dinaikkan ke tingkat penyidikan.

"Ya yang ketiga ini mudah-mudahan kita akan segera melakukan gelar perkara karena kita sudah mengklarifikasi baik itu pelapornya, saksi-saksi yang lain dan juga beberapa orang yang lain juga, nantinya akan kita gelarkan untuk naik dari penyelidikan ke tingkat penyidikan," ujar Yusri.

Kapolda Metro Jaya Bentuk Tim Khusus

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran membentuk tim khusus (timsus) untuk mengusut dugaan mafia tanah yang 'jarah' rumah Ibunda Dino Patti Djalal. Polisi juga melibatkan Satgas Mafia Tanah hingga Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk mengusut kasus ini.

"Kapolda Metro Jaya sudah membentuk tim yang pertama dari penyidik Ditkrimum Polda Metro Jaya. Kemudian juga melibatkan tim satgas mafia tanah pusat dan BPN pusat," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Yusri mengatakan Kapolda Metro Jaya menaruh perhatian perihal adanya mafia tanah yang telah meresahkan masyarakat tersebut. Tim yang dibentuk Kapolda tersebut kini telah bergerak melakukan penyelidikan secara menyeluruh.

Selengkapnya di halaman berikutnya>>>

Polisi Jelaskan Posisi Fredy Kusnadi dalam Kasus Mafia Tanah

Nama Fredy Kusnadi disebut Dino sebagai dalang mafia tanah yang 'menjarah' rumah ibundanya. Bahkan, Dino menyebut Fredy pernah ditangkap namun telah dilepaskan.

"Update MafiaTanah: Ternyata polisi pernah tangkap dalang sindikat tanah a.n. Fredy Kusnadi tgl 11 Novembr 2020 jam 9 malam. Namun setelah dibawa ke Polda Metro, malam itu juga sang dalang dibebaskan tanpa proses hukum yg transparan+jelas. Setelah itu, dalang tersebut kabur dari rumahnya," cuit Dino lewat akun Twitter-nya seperti dilihat detikcom, Kamis (11/2/2021).

Polda Metro Jaya kemudian memberikan penjelasan. Polda Metro membantah pernah menangkap Fredy Kusnadi. Namun polisi membenarkan pernah memeriksa Fredy Kusnadi.

"Memang pada saat kasus LP (laporan polisi) yang kedua bulan November lalu, penyidik sempat mengonfirmasi kepada saudara F karena sempat bunyi saat dilakukan pemeriksaan. Kemudian saudara F datang sendiri ke Polda Metro Jaya, kita ambil keterangannya," kata Kombes Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Dari pemeriksaan tersebut, polisi mengaku belum menemukan unsur pelanggaran pidana yang dilakukan Fredy. Yusri menepis anggapan bahwa pihaknya pernah menahan Fredy.

Dino Patti Djalal Sebut Pelaku Mafia Tanah Anak Muda

Dino Patti Djalal mengungkap ciri-ciri pelaku yang ia duga sebagai dalang dari mafia tanah yang 'menjarah' rumah Ibunya. Dino Patti Djalal menduga mayoritas pelaku adalah anak muda.

"Dalam kasus saya ya, ini (dugaan pelaku) anak-anak muda dan pengusaha. Ada yang pernah kerja di bank dan sebagainya. Usianya 20 sampai 30 tahun," ujar Dino Patti Djalal kepada wartawan di Mayapada Tower, Jakarta Pusat, Selasa (16/2).

"Tapi yang saya surprise-nya apa? Umumnya anak muda," kata Dino Patti Djalal.

Polda Metro Jaya telah menangkap lima tersangka dalam kasus mafia tanah ini. Dino mengaku masih belum mendapatkan informasi lebih lanjut terkait penangkapan tersangka itu.

"Saya tahu yang dikejar itu ada wanita 1 berinisial R, kemudian ada satu foto yang ada di Twitter saya pernah tuh ya. Foto wanita yang menjadi figur yang lolos, jadi yang lain ketangkep, termasuk Si Sherly ini yang memberikan kesaksian di Instagram kami, tapi yang wanita ini lolos. Dia yang kan ada KTP palsu. Sorry namanya bener, tapi dipalsukan sehingga fotonya lain. Jadi dengan foto yang beda ini dan dengan figur yang palsu ini mereka mencoba mencuri sertifikatnya, tapi gagal. Si ini (Sherly) sedang dicari mudah-mudahan ketangkep juga. Karena dia jadi salah satu tokoh kunci di sini," ungkap Dino.

Dino Ungkap Sistem Kerja Mafia Tanah Kayak Piramida

Dino Patti Djalal bicara soal sistem kerja mafia tanah yang 'menjarah' rumah ibundanya. Ia mengatakan polisi harus segera menangkap dalang dalam kasus mafia tanah tersebut.

"Harapannya tentu semakin terkuak siapa yang menyuruh dia. Ini kan kayak main piramida gitu, di bawahnya udah ketangkap setelah itu siapa di atasnya. Jadi harus diungkap terus," ujar Dino Patti Djalal kepada wartawan di Mayapada Tower, Selasa (16/2/2021).

Ia menilai saat yang tertangkap hanya pelaku level bawah. Sedangkan dalang dalam kasus ini belum tertangkap.

Dino Patti Djalal menjelaskan, sindikat mafia tanah sudah ada sistem yang diatur dengan rapi dan terstruktur. Ia menyebut para pelaku memiliki peran masing-masing.

"Untuk kasus mafia tanah karena sindikat itu emang begitu ada perencanaannya, ada sistemnya, ada bagian yang pura-pura jadi pembeli terus ada juga bagian broker, ada juga yang bikin KTP palsu, ada yang mencari figur ada yang apa namanya cari founder," jelasnya.

"Ini benar-benar yang harus dibongkar tuntas," lanjutnya.

(ibh/ibh)