Evaluasi 2 Pekan Ganjil Genap di Bogor, Ada Penurunan Kasus COVID-19

Erika Dyah - detikNews
Minggu, 14 Feb 2021 19:28 WIB
Pemkot Bogor
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Wali Kota Bogor Bima Arya meninjau hari terakhir penerapan ganjil genap di Gerbang Tol Exit Baranangsiang. Menurut Bima, penurunan mobilitas warga cukup signifikan. Bahkan, tren kasus positif harian juga cenderung menurun.

Bima menyampaikan berdasarkan data yang dihimpun Pemerintah Kota Bogor dari Jasa Marga, telah terjadi penurunan mobilitas kendaraan di dua gerbang tol akses menuju Kota Bogor (Baranangsiang dan Sentul Barat) pada pelaksanaan pekan kedua kebijakan ganjil genap.

Adapun tercatat pada saat perayaan Imlek, Jumat (12/2) total kendaraan yang melintas mencapai 40.124 kendaraan. Jumlah ini menurun 20.6 persen (10.417 kendaraan) dibanding data Jumat pekan sebelumnya.

Sementara pada Sabtu (13/2) tercatat ada 45.459 kendaraan yang melintas, atau terjadi penurunan 2,8 persen (1.314 kendaraan) dibanding Sabtu pekan sebelumnya.

Bima melanjutkan meski data Sabtu kemarin hanya menunjukkan penurunan 2,8 persen, tapi jika dilihat dari rata-rata kendaraan yang masuk setiap hari Sabtu sepanjang Januari 2021 (2, 9, 16, 23 dan 30 Januari) sebelum ganjil genap adalah 54.588. Atau terdapat penurunan sekitar 9.129 kendaraan saat pemberlakuan ganjil genap.

"Berdasarkan laporan di lapangan, hari ini (Minggu, 14 Februari 2021) lebih landai lagi dibandingkan kemarin. Ini istimewa mengingat long weekend. Jadi kita sudah pelajari data-datanya yang masuk Bogor dari exit tol Baranangsiang dan Sentul Selatan, pengurangannya cukup signifikan dan di dalam Kota Bogor juga selama dua minggu ini tidak ada kemacetan, tidak ada penumpukan. Artinya dari segi mobilitas, kebijakan ganjil genap ini berhasil, pengurangan mobilitas ini berhasil," ungkap Bima dalam keterangan tertulis, Minggu (14/2/2021).

Lebih lanjut, Bima menjelaskan penurunan mobilitas warga juga cukup berdampak pada penurunan jumlah kasus harian COVID-19 di Kota Bogor.

"Tanggal 6 Februari kasusnya rekor ya, 187 (kasus positif per hari). 14 Februari ini kasus positifnya 109. Jadi, kita lihat ada angka yang terus menurun dari minggu lalu. Kita masih akan pelajari besok dan beberapa hari ke depan. Tetapi trennya sudah terlihat, ada indikasi yang sangat kuat tren itu menurun," jelas Bima.

Lebih lanjut, Bima mengurai data dari Dinas Kesehatan Kota Bogor yang menunjukkan adanya penurunan kasus harian COVID-19 sebesar 41,7 persen. Tren tersebut terlihat dari angka terkonfirmasi positif setiap harinya dari tanggal 6 hingga 14 Februari 2021. Dengan rincian 187, 178, 175, 174, 165, 150, 129, 128, dan hari ini 109.

Bima menilai penurunan kasus ini mungkin saja selain karena ganjil genap juga karena penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro di tingkat RT/RW.

"Makanya kita lihat juga data-data di wilayah itu. Jadi titik-titik yang diperketat itu apakah memang berkurang jumlah positifnya dari titik-titik itu. Jadi harus dianalisis lagi. Kalau dugaan saya, berkurangnya ini karena dua hal tadi ya. Karena di satu sisi digempur lewat ganjil genap, di sisi lain wilayah diperkuat dari PPKM," katanya.

Terkait kelanjutan pemberlakuan kebijakan ganjil genap, Bima menyebutkan perlu melihat tiga faktor sebelum memutuskan berlanjut atau tidaknya ganjil genap di Kota Bogor.

"Faktor pertama adalah dari dimensi mengurangi mobilitas warga tadi, bisa dikatakan berhasil. Warga Bogor dan warga luar Bogor berkurang berkendara. Faktor kedua dari aspek kesehatan ada indikasi kuat. Saya tidak mau mengatakan ini berhasil karena masih melihat beberapa hari ke depan. Tapi indikasi kuat terjadi tren penurunan kasus COVID-19 dari 187 ke 109 itu turun signifikan," terangnya.

Meski demikian ia menyebutkan ada satu faktor lagi yang harus diperhitungkan untuk memutuskan apakah ini berlanjut atau tidak, yaitu dimensi ekonomi.

"Saya mau lihat data hotel, restoran, toko-toko, UMKM, pasar, dan lain sebagainya. Karena prinsip kita kan mencari titik temu antara dimensi kesehatan dan dimensi ekonomi. Ya apakah kebijakan yang diambil setiap akhir pekan secara permanen merugikan secara ekonomi atau tidak, kita akan hitung lagi beberapa hari ke depan," tandas Bima.

Atau mungkin, lanjutnya, tanpa ganjil genap pun kondisi perekonomian tidak jauh berbeda.

"Jadi perlu hati-hati melihat data. Prinsip kita adalah analisis secara holistik, harus komprehensif. Jadi Senin, Selasa kita akan dialog dengan PHRI, teman-teman mal dan lain sebagainya untuk meminta masukan datanya," pungkas Bima.



Simak Video "Bogor Bentuk Satgas Khusus PPKM"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/ega)