Polri Pelajari Pelaporan Tweet Novel Baswedan soal Ustadz Maaher Meninggal

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Jumat, 12 Feb 2021 13:49 WIB
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono (Foto: dok. Divisi Humas Polri)

"Intinya pesan kami dari Aktivis Pemuda Indonesia, bahwa Novel Baswedan harus menjaga integritas dia sebagai penyidik senior di KPK. Jangan saling serang sesama aparat dan institusi. Karena akan menjadi preseden buruk bagi iklim demokrasi di Indonesia. Dan ini akan membuat gaduh kalau dibiarkan," tuturnya.

Joko menyebut pelaporannya terhadap Novel Baswedan didasari oleh panggilan hati nurani. Joko berharap Novel segera dipanggil Bareskrim Polri untuk dimintai klarifikasi soal cuitannya tentang Ustadz Maaher yang meninggal dunia di tahanan.

"Karena gini... karena saya baca Twitter itu kemarin, kemarin itu kami, dan kami aktivis muda. Jadi kami ada panggilan hati nurani kami, ketika ini ada yang membuat gaduh republik ini kami laporkan. Jadi karena dia sudah membuat gaduh dan ini ada indikasi kalau dibiarkan ini akan menjadi bola salju," terang Joko.

"Jadi kami hari ini meminta pihak Bareskrim untuk segera memanggil saudara Novel untuk mengklarifikasi cuitannya tersebut. Untuk hal selanjutnya yang bersangkutan dengan delik hukumnya, pasalnya, bisa dikonfirmasi ke pihak penyidik Bareskrim Mabes Polri," sambungnya.

Diketahui, Novel Baswedan membuat cuitan tentang meninggalnya Ustadz Maaher. Dia mempertanyakan kenapa orang sakit tetap dipaksakan ditahan.

"Innalilahi Wainnailaihi Rojiun. Ustadz Maaher meninggal di Rutan Polri. Padahal kasusnya penghinaan, ditahan, lalu sakit. Orang sakit, kenapa dipaksakan ditahan? Aparat jangan keterlaluan lah. Apalagi dengan Ustadz. Ini bukan sepele lho..," cuit Novel melalui akun Twitter @nazaqistsha seperti dilihat pada Selasa (9/2).

Halaman

(jbr/jbr)