Video Pidato Gatot soal Omnibus Law Ditayangkan di Sidang Syahganda

Ibnu Hariyanto - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 17:22 WIB
Video Pidato Gatot soal Omnibus Law Ditayangkan di Sidang Syahganda
Video Pidato Gatot soal Omnibus Law Ditayangkan di Sidang Syahganda (Ibnu/detikcom)
Jakarta -

Rekaman video pidato Gatot Nurmantyo soal 'omnibus law tidak manusiawi' ditayangkan di sidang kasus dugaan penyebaran berita bohong Syahganda Nainggolan. Sebab, pengacara Syahganda Nainggolan merasa keberatan dengan keterangan ahli bahasa Andika Dutha Bachari.

Andika merupakan ahli bahasa yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum di sidang lanjutan kasus penyebaran berita bohong Syahganda Nainggolan di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Kamis (11/2/2021).

Awalnya, Andika memberikan pendapat terkait cuitan Syahganda yang dinilai mengandung berita bohong. Cuitan yang dimaksud terkait 'salah satu point pidato Gatot Nurmatyo di Karawang tadi mengutuk RUU omnibus law, yang sengsarakan buruh. Selamat bergerak tokoh KAMI, Iswan Abdullah, Roy Junto, Abdul Hakim, Arif Gunadi, Mira dll, tokoh buruh. Selamat mogok nasional'.

Pengacara Syahganda mengaku kurang puas dengan keterangan Andika. Kemudian, pengacara Syahganda menyerahkan bukti rekaman video pidato Gatot Nurmatyo soal 'omnibus law tidak manusiawi'.

"Kami minta video pidato Gatot Nurmatyo ditayangkan di persidangan ini," kata salah satu pengacara Syahganda, Abdullah Alkatiri.

"Di sini pada menit 14 sampai 16, Gatot bilang ini tidak manusiawi yang menyengsarakan itu, yang dibilang Gatot mengutuk oleh Syahganda dan di situ ada Syahganda," lanjutnya.

Dalam video yang ditayangkan di persidangan itu, Gatot berpidato di acara sarasehan KAMI di Karawang. Lokasi pidato di Tugu Proklamasi Rengasdengklok.

"KAMI ini menyuarakan suara hati rakyat, di sini Karawang adalah kota industri, banyak buruh. Undang-Undang omnibus law yang akan diundangkan seperti kita tahu ini sangat-sangat tidak manusiawi dan tidak berpihak kepada masyarakat. Dan mudah-mudah ini tidak diundangkan," kata Gatot dalam video yang ditayangkan di persidangan Syahganda.

Kemudian, Alkatiri mempertanyakan bagian mana yang mengandung berita bohong kepada Andika. Andika menilai cuitan Syahganda itu antara tulis dan gambar tidak bersesuaian.

"Karena yang mengatakan itu Syahganda poin ini kata tidak manusiawi itu mengutuk menurut Syahganda itu. Jadi tidak manusiawi, menurut Syahganda mengutuk. Kan tadi Gatot bilang tidak manusiawi dan merugikan kan itu betul?" kata Alkatiri.

"Jadi yang harus diperhatikan dalam tweet terdakwa lihat saja antara gambar yang di tampilan ini, suasananya dan yang tadi sarasehan KAMI ini tidak mencerminkan kesesuaian. Jadi saya mengatakan tidak manusiawi dia kan meneruskan penyataan Gatot.... Jadi informasi itu tidak lengkap. Ada kalimat persamaan RUU omnibus law menyengsarakan karena mereka sendiri yang buat, seperti mereka mengatakan pesangon dihapus, dan di RUU tidak ada satu pun pasal yang mengatakan itu," kata Andika menjelaskan.

Dalam sidang ini, Syahganda duduk sebagai terdakwa. Ia hadir secara virtual dari Rutan Bareskrim Polri.

Syahganda didakwa menyebarkan berita bohong terkait kasus penghasutan demo menolak omnibus law yang berujung ricuh di Jakarta. Syahganda didakwa melanggar Pasal 14 ayat 1 Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Dalam pasal ini, Syahganda terancam pidana penjara 10 tahun.

(ibh/knv)