PMI Bali ke Desa, Kantongi 340 Plasma Darah Konvalesen untuk Pasien COVID

Tim detikcom - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 15:39 WIB
Ragam cara dilakukan untuk menangani virus Corona. Salah satunya donor plasma darah dari penyintas COVID-19 untuk bantu pasien COVID-19 lain yang masih dirawat.
Ilustrasi donor plasma darah konvalesen dari penyintas COVID-19 untuk bantu pasien COVID-19 lain yang masih dirawat. (Didik Suhartono/Antara Foto)
Denpasar -

Pemenuhan plasma darah konvalesen bagi pasien COVID-19 di Bali masih mengalami kendala, salah satunya dalam mencari donor. PMI Bali pun mencari donor plasma darah konvalesen dengan turun ke berbagai desa.

"Kami memang selama kegiatan donor darah (konvalesen) ini di Bali memang masih masalah itu adalah mencari pendonor. Kalau proses pengambilan kami tidak masalah. Makanya tyang (saya) masuk sekarang ke desa-desa. Kemarin kan kegiatan donor darah kan cuma di kota-kota. Di desa itu mereka tidak tahu," kata Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Bali, I Gede Wiryana Patra Jaya, di kantornya, Senin (8/2/2021).

Patra mengungkapkan, pihaknya turun ke desa mencari pendonor plasma darah konvalesen dengan program door to door. Program ini bahkan masuk hingga ke tingkat banjar/dusun agar masyarakat mengetahui proses donor darah konvalesen.

"Jadi bukan berarti mereka (masyarakat) tidak mau (donor darah konvalesen), tapi karena tidak tahu. Jadi itu yang jadi program tyang. Tyang sebut program door to door," kata Patra.

Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali, I Gede Wiryana Patra Jaya (dok detikcom)Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali, I Gede Wiryana Patra Jaya (dok. detikcom)

PMI Bali masuk ke desa-desa dengan membawa mesin apheresis. Pihaknya berprinsip, dengan adanya mesin ini membuat layanan donor darah konvalesen di tengah masyarakat.

Terlebih saat ini belum semua daerah di Bali yang bisa melaksanakan donor darah konvalesen. Beberapa rumah sakit di luar Denpasar yang sudah melaksanakan yakni baru di Badan Rumah Sakit Umum Daerah (BRSUD) Tabanan dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mangusada di Kabupaten Badung.

Lewat program turun ke desa, PMI Bali mendapatkan 340 kantong plasma darah konvalesen sebagai terapi guna membantu penyembuhan pasien COVID-19. Jumlah ini didapatkan terhitung sejak donor plasma darah konvalesen pertama kali dilakukan pada 17 Juli 2020.

"Sampai kemarin itu, kita sudah mendapatkan 341 kantong (plasma darah). Nah ini hitungannya 341 kantong. Ada sekitar 170-an pasien lah (yang sudah diberikan terapi plasma darah konvalesen)," kata Patra.

Sebanyak 170 pasien yang diberi plasma darah ini tidak hanya berada di Bali, tapi juga berada di Banyuwangi, Malang, Semarang, dan di Mataram. Hal ini karena di tingkat nasional sudah ada strategi agar suatu daerah yang memiliki stok plasma darah konvalesen bisa dikirim ke daerah lain yang mengalami kekurangan.

Patra menuturkan, teori plasma darah konvalesen sebenarnya sudah ada sekitar 100 tahun lalu. Indonesia menggunakan terapi plasma darah konvalesen ini sebagai tambahan terhadap pasien COVID-19, terutama pasien dalam kategori berat dan kritis.

Di Bali sendiri memulai donor plasma darah konvalesen mulai pada 17 Juli 2020. Saat itu ada seorang dokter yang terpapar COVID-19 dan berhasil sembuh berkat bantuan terapi plasma darah konvalesen. Dokter ini kemudian menjadi pionir dalam penerapan plasma darah konvalesen di Bali.

Program ini pun mendapatkan dukungan dari Pangdam IX/Udayana dengan menugaskan para bintara pembina desa (babinsa) untuk mengedukasi masyarakat mengenai donor darah konvalesen.

Di sisi lain, permintaan plasma darah konvalesen di Bali terus meningkat. Hal ini juga seiring dengan meningkatnya kasus COVID-19 di Pulau Dewata. Data Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan COVID-19 Provinsi Bali, Minggu (7/2), menunjukkan ada kasus terkonfirmasi positif sebanyak 381 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 340 kasus melalui transmisi lokal, 40 pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) dan 1 orang pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

"Permintaan terus naik. Sekarang saja ada 24 orang yang antre untuk mendapatkan plasma darah konvalesen. Karena tergantung kasusnya, kasusnya naik ya permintaan akan naik," terang Patra.

Patra melihat bahwa pergerakan kasus COVID-19 di Bali dari Desember 2020 hingga Februari 2021 terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan permintaan plasma darah konvalesen di Bali meningkat menjadi rata-rata 50 pasien per bulan. Menurutnya, permintaan akan plasma darah konvalesen di Bali masih lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaan yang ada.

Hingga saat ini, Patra melihat bahwa animo masyarakat untuk melakukan donor darah konvalesen sudah mulai meningkat, walaupun jumlah pendonor masih sedikit. Hal itu setelah adanya gerakan nasional plasma darah konvalesen yang dicanangkan oleh Wakil Presiden. Selain itu, pimpinan daerah seperti Gubernur Bali, Pangdam IX/Udayana, dan Kapolda Bali memberikan konsentrasi untuk hal tersebut.

Hanya, guna mendapatkan pendonor plasma darah konvalesen ini lebih sulit dibanding donor darah pada umumnya. Spesifik untuk pendonor plasma darah konvalesen perempuan, mereka bisa mendonor apabila belum pernah hamil dan menerima transfusi darah dari orang lain.

"Jadi kadang-kadang yang sudah terpapar, yang sudah lengkap pengen gini (donor) mereka tidak bisa menjadi calon pendonor," tutur Patra.

Selain itu, setelah dilakukan screening terhadap calon pendonor, banyak dari mereka yang mempunyai antibodi sedikit sehingga tidak bisa diambil. Sesuai dengan syarat hitungan pengambilan plasma darah konvalesen, pendonor harus mempunyai titer antibodi minimal 1/320.

(jbr/jbr)