Bakamla Pastikan Aktivitas 2 Kapal Tanker Iran di Laut Natuna Rugikan RI

Matius Alfons - detikNews
Selasa, 02 Feb 2021 13:11 WIB
Kepala Bakamla Laksdya Aan Kurnia
Kepala Bakamla Laksdya Aan Kurnia (Rakean R Natawigena/20detik)
Jakarta -

Komisi I DPR RI melakukan rapat dengar pendapat bersama Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI l. Dalam rapat tersebut, Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDIP TB Hasanuddin menyinggung soal kerugian Indonesia terkait aktivitas 2 kapal tanker Iran dan Panama beberapa waktu yang lalu.

Rapat dengar pendapat ini dilaksanakan Selasa, (2/2/2021), pukul 10.00 WIB di ruang rapat Komisi I DPR RI. Awalnya TB Hasanuddin mempertanyakan terkait transaksi minyak yang bukan milik Indonesia oleh dua kapal asing di laut Natuna.

"Ketika kapal asing mentransfer BBM ke kapal asing, ini juga ternyata kita nggak bisa apa-apa, saya tanya kenapa? Jawab aja kalau ada transaksi narkoba, di pesawat yang melintas di wilayah Zona NKRI kita juga nggak bisa apa-apa, ini tidak bisa mendeklarasikan 'ini wilayah saya jangan dipakai transaksi', ternyata tidak bisa juga, di laut ternyata juga gitu ya? Karena ini milik, kecuali misalnya itu melibatkan kapal Indonesia," kata TB Hasanuddin dalam rapat dengar pendapat.

TB Hasanuddin menyebut harus ada pendalaman dari sisi hukum terkait persoalan ini ke depannya. Dia mempertanyakan apakah Indonesia dirugikan terkait persoalan dua kapal asing beberapa saat yang lalu.

"Ini dari sisi hukum harus diperdalam begitu, jadi kalau dasarnya sesungguhnya pakai UUD, wilayah Kesatuan NKRI harus dikontrol oleh yang punya NKRI, tidak boleh ada kejahatan di wilayah itu, artinya TKP-nya ya TKP milik kita, wilayah kita, bahwa pelakunya bahwa kita tidak dirugikan ini menjadi hal-hal yang harus kita masukan juga dalam hal-hal ini," ucapnya.

Kepala Bakamla (Kabakamla) Laksamana Madya (Laksdya) Aan Kurnia lantas menjawab hal tersebut. Dia memastikan Indonesia dirugikan dari kegiatan ship to ship kapal asing di Laut Natuna.

"Ada menarik dari Pak TB Hasanuddin ini kalau minyaknya bukan milik Indonesia lalu kapalnya yang satu bendera asing yang satu lagi juga bendera asing, ini kan nggak merugikan Indonesia? Kalau jawaban saya ini keliru besar pak, karena ini pelaksanaannya di laut teritorial kita," jawab Aan.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2