Kemenag: Wakaf Uang Hanya Diinvestasikan untuk Produk Keuangan Syariah

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 10:26 WIB
Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin
Foto: dok. Istimewa
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang. Gerakan tersebut kemudian disoroti masyarakat, terutama terkait penggunaan dana wakaf. Kementerian Agama memastikan pengelolaan wakaf uang hanya akan dilakukan untuk investasi produk keuangan syariah.

"Secara garis besar, pengelolaan wakaf uang hanya bisa dilakukan melalui investasi produk keuangan syariah," kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin dalam keterangannya, Kamis (28/01).

Kamaruddin menegaskan mekanisme pengumpulan dan pengelolaan wakaf uang diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah. Ia memastikan pengelolaan wakaf uang hanya diinvestasikan untuk produk keuangan syariah.

Lebih lanjut, pengelolaan wakaf uang akan dipercayakan kepada nazhir (pengelola wakaf) melalui Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) yang sudah mendapat izin dari Menteri Agama. Pihak yang menjadi nazhir dalam GNWU adalah Badan Wakaf Indonesia (BWI), yang merupakan lembaga independen.

"Uang wakaf yang terhimpun kemudian akan diinvestasikan ke berbagai macam produk keuangan syariah yang resmi. Misalnya, deposito mudharabah, musyarakah, bahkan sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)," ujar Kamaruddin.

Ia menambahkan, pembiayaan proyek pemerintah hanya salah satu bentuk instrumen investasi. Dengan catatan sepanjang instrumen tersebut berbasis syariah, dengan tetap memperhatikan kehendak wakif.

"Jadi, sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara hanyalah salah satu instrumen syariah yang memberikan yield (bagi hasil) tertentu. Terserah nazhir mau diinvestasikan ke instrumen yang mana, sepanjang sesuai dengan ketentuan UU dan aturan syariah," ungkap Kamaruddin.

Meski begitu, Kamaruddin mengakui SBSN atau sukuk saat ini merupakan instrumen investasi unggulan. Sebab, karakteristiknya sangat aman serta memberikan imbal hasil yang bersaing.

"Sehingga, wajar jika nazhir sebagai portfolio manager mempertimbangkan instrumen tersebut," imbuhnya.

Dari hasil investasi syariah wakaf uang itu, apa pun jenisnya, sebanyak 90 persennya akan dimanfaatkan untuk program pemberdayaan umat dengan membagikannya kepada penerima manfaat wakaf (mauquf 'alaih). Sedangkan 10 persen lainnya dapat digunakan oleh nazhir sebagai pengelola aset wakaf.

"Adapun pokok wakafnya tidak akan berkurang sama sekali," kata Kamaruddin.

"Dalam melakukan pengawasan, pengumpulan, dan pengelolaan wakaf uang, Kementerian Agama berpedoman pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 4 Tahun 2009," tuturnya.

(yld/imk)