ADVERTISEMENT

Perjalanan Kasus Rasisme Ambroncius Nababan hingga Ditahan Bareskrim

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 11:25 WIB
Ambroncius Nababan.
Ambroncius Nababan Foto: Kadek Melda Luxiana/detikcom

5. Apresiasi ke Bareskrim Polri

Sejumlah pihak pun mengapresiasi Polri dalam penanganan kasus ini. Ketua Komisi III DPR Herman Hery menyebut langkah ini menunjukkan Polri memperhatikan terkait kasus rasialisme.

"Saya mengapresiasi langkah cepat Bareskrim yang mengambil alih kasus ini dari Polda Papua. Langkah ini menunjukkan Polri secara institusi concern (perhatian) terhadap kasus ini," kata Herman saat dihubungi, Selasa (26/1).

Herman menyebut tindakan rasisme yang dilakukan Ambroncius tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dijamin konstitusi.

"Tindakan rasisme atas dasar apa pun merupakan pelanggaran HAM yang dijamin konstitusi kita. Maka dari itu, saya mendorong Polri untuk mengusut kasus ini secara transparan dan profesional," ujarnya.

6. Bareskrim Wanti-wanti Masyarakat Bijak Bermedsos

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Brigjen Slamet Uliandi, mewanti-wanti masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial. Slamet mengatakan Polri tak akan segan-segan untuk menindak tegas mereka yang sengaja membuat ujaran untuk membuat perpecahan.

Dirtipidsiber Bareskrim Brigjen Slamet UliandiFoto: Dirtipidsiber Bareskrim Brigjen Slamet Uliandi

"Seperti yang disampaikan pimpinan Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam fit and proper test pekan lalu, bahwa Polri akan membedakan penanganan ujaran kebencian yang penyelesaiannya masih bisa dilakukan lewat teguran, dengan ujaran kebencian yang bersifat memecah belah. Tak ada toleransi bagi pihak-pihak yang dengan sengaja membuat ujaran untuk memecah belah," kata Slamet kepada detikcom, Rabu (27/1).

"Kami di Siber Bareskrim memastikan akan tetap menghormati kebebasan berbicara masyarakat karena itu adalah hak konstitusional setiap warga negara. Namun kami mengingatkan kepada semua pihak, agar berhati-hati dalam 'bermain jari' jangan sampai membuat sebuah postingan yang mengarah kepada perpecahan bangsa khususnya menjurus pada persoalan suku, agama, ras dan antargolongan," sambungnya.


(hri/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT