Round-Up

Maaf Terucapkan tapi Tersangka Tetap Tersemat untuk Ambroncius Nababan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 07:43 WIB
Ambroncius Nababan (Kadek Melda Luxiana/detikcom)
Foto: Ambroncius Nababan (Kadek Melda Luxiana/detikcom)

Status tersangka tetap tersemat di pundak Ambroncius Nababn meski sudah meminta maaf dan mengklarifikasi. Ambroncius ditetapkan sebagai tersangka kemarin, atau sehari setelah dimintai keterangan oleh polisi.

Ambroncius diduga melakukan tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dan/atau membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain dan/atau barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan/atau Pasal 16 Jo Pasal 4 huruf b ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis dan/atau Pasal 156 KUHP.

"Benar. Terlapor AN (Ambroncius Nababan) kami naikkan statusnya menjadi tersangka," kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi kepada detikcom, Selasa (26/1/2021).

Ancaman hukuman terhadap Ambroncius Nababan pun tak main-main. Mantan calon legislatif (caleg) Hanura itu terancam hukuman penjara di atas 5 tahun.

"Yang bersangkutan kita kenakan Pasal 45 A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU ITE Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b ayat 1 UU No 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis, dan juga ada Pasal 156 KUHP. Ancaman hukumannya di atas 5 tahun," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, kemarin.

Penanganan kasus Ambroncius ini dilakukan dengan konsep Presisi. Konsep Presisi merupakan milik Komjen Listyo Sigit Prabowo.

Konsep Presisi dipaparkan Komjen Listyo Sigit saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test sebagai calon Kapolri, di Komisi III DPR RI. Presisi merupakan kependekan dari Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan.

Dalam fit and proper test, Komjen Listyo Sigit menyatakan tak boleh lagi ada anggapan hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Di sisi lain, Komjen Sigit mengatakan penegakan hukum juga harus dilakukan secara humanis. Itu adalah salah contoh konsep Presisi.

Halaman

(zak/zak)