Pemkot Bogor Terima 9.160 Dosis Vaksin COVID-19 Tahap 2

Erika Dyah - detikNews
Selasa, 26 Jan 2021 20:58 WIB
Pemkot Bogor
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali menerima vaksin COVID-19 sebanyak 9.160 vial atau dosis. Vaksin tahap dua yang diterima di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor ini merupakan produksi Sinovac.

Sekretaris Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan pihaknya telah menerima Vaksin Sinovac tahap kedua sebanyak 5 boks. Jumlah tersebut dirinci khusus untuk pejabat publik VVIP sebanyak 10 orang serta 9.150 untuk tenaga kesehatan dan nonkesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di Kota Bogor.

"9.160 dosis vaksin COVID-19 ini untuk penyuntikan tahap kedua dengan sasaran yang dua minggu lalu sudah dilakukan penyuntikan. Insyaallah hari Kamis (28/1) nanti kami akan lakukan penyuntikan kedua," ujar Erna dalam keterangan tertulis, Selasa (26/1/2021).

Erna menjelaskan vaksin Sinovac harus diberikan sebanyak dua kali, masing-masing 0,5 cc dengan jarak penyuntikan 14 hari. Ia melanjutkan penyuntikan pertama dilakukan untuk merangsang pembentukan antibodi.

Sementara penyuntikan kedua untuk mengakselerasi terbentuknya antibodi sampai di titik tertentu yang cukup optimal agar bisa melindungi seseorang yang divaksin dari gejala yang berat.

"Yang perlu diingat adalah orang-orang yang divaksin COVID-19 ini bukan berarti tidak mungkin tertular atau tidak mungkin tidak menularkan karena vaksin tidak mencegah orang tertular. Jadi orang yang sudah divaksin tetap harus melakukan 5M," tegas Erna.

Lebih lanjut Erna menegaskan orang yang sudah divaksin masih bisa tertular dan masih bisa menularkan ke orang lain tetapi ketika tertular diharapkan gejalanya tidak berat. Sebab sudah memiliki kekebalan tubuh untuk melawan virus.

"Kalau orang yang belum divaksinasi mungkin pada saat terinfeksi virus-virus perlu waktu, bahkan ada yang sampai seminggu antibodinya terbentuk sehingga infeksinya menjadi berat, tapi kalau yang sudah divaksin dalam 24 jam dia sudah terbentuk antibodi bisa langsung melawan virus," katanya.

Ia pun mengemukakan adanya efek samping atau efek lanjutan sesudah divaksinasi yang umumnya tergolong ringan seperti nyeri pada tempat penyuntikan atau juga demam. Akan tetapi Erna menilai demam merupakan tanda yang baik, sebab tubuh optimal membentuk antibodi pada suhu yang lebih tinggi dari suhu normal.

"Jadi kalau orang demam itu artinya memang antibodinya sedang terbentuk, kemudian ada lagi efek sampingnya ngantuk. Tapi sejauh ini tidak ada efek samping yang berat yang menyebabkan sasaran yang dilakukan vaksinasi sampai memerlukan tindakan yang khusus," pungkas Erna.

Selain itu, Erna menyebutkan tercatat hingga Senin (25/1), dari 9.533 sasaran tenaga kesehatan, sebanyak 3.367 tenaga kesehatan telah registrasi atau setara dengan 35,3%. Dari tenaga kesehatan yang teregistrasi, sebanyak 2.733 orang (28,67%) telah divaksin dan 634 orang (6,65%) tidak atau ditunda vaksinasinya karena alasan tertentu.

Sementara itu dari 9.160 vial vaksinasi yang sudah diterima pada tahap pertama, sebanyak 6.520 vial (71,26%) telah terdistribusi ke 55 fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan rincian sebanyak 2.733 (41,92%) vial telah digunakan dan 3.787 vial (50,08%) belum digunakan.

"Kita masih akan melakukan vaksinasi ini baik untuk sasaran yang belum divaksin maupun penyuntikan kedua. Kita targetnya Februari selesai," tutur Erna.

Erna menekankan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di fasilitas pelayanan kesehatan dilaksanakan dengan protokol kesehatan 5M, serta sesuai standar pelayanan dan prosedur operasional, yaitu disesuaikan dengan petunjuk teknis pelaksanaan vaksinasi.

"Pejabat publik dan tenaga kesehatan yang divaksin pada tahap awal diharapkan dapat menjadi panutan bagi masyarakat agar tidak takut dan ragu untuk mendapatkan vaksinasi," harapnya.

Erna menilai keikutsertaan dalam vaksinasi COVID-19 merupakan salah satu upaya untuk mengurangi transmisi atau penularan COVID-19. Tak hanya itu, vaksinasi juga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian, mencapai kekebalan masyarakat (Herd Immunity), dan melindungi masyarakat dari COVID-19 agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi.

(ncm/ega)