Pria di Mataram Aniaya Anak Kandung agar Dikirimi Uang oleh Istri

Faruk Nickyrawi - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 22:01 WIB
Pria di Mataram Aniaya Anak Kandung Agar Dikirimi Uang oleh Istri
Pria di Mataram menganiaya anak kandung agar dikirimi uang oleh istri. (Foto: dok. Istimewa)
Mataram - Seorang pria berinisial AF (30), asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), tega menganiaya anak kandungnya sendiri. Hal itu dilakukan AF agar istrinya yang bekerja di luar negeri mengirimkan uang.

"Kami mengamankan pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ini ada ayah yang menganiaya anak kandungnya yang masih berusia 7 tahun. Anak kandungnya ini masih SD," ungkap Kapolresta Mataram Nusa Tenggara Barat Kombes Heri Wahyudi dalam keterangannya, Senin (25/1/21).

AF menganiaya anak kandungnya dengan cara mengikat di jendela, lalu merekam dengan menggunakan handphone. Tujuan video penganiayaan itu dikirim ke istrinya yang bekerja sebagai TKW adalah agar mengirimkan sejumlah uang. Video penganiayaan itu viral di media sosial hingga akhirnya pelaku ditangkap pihak kepolisian.

Heri mengatakan tindakan kekerasan terhadap anak ini sudah berulang kali dilakukan AF. Terakhir dilakukan pelaku pada 30 Desember 2020.

Dalam video yang beredar, pelaku beraksi dengan cara mengikat anaknya menggunakan tali rafia di tiang jendela selama satu jam lebih. Tak hanya mengikat, pelaku juga memukuli anaknya menggunakan tongkat kayu berulang kali hingga anaknya menangis kesakitan.

"Itu kejadiannya, anaknya atau korban diikat, lalu dipukul pahanya menggunakan tongkat sambil divideokan," ujar Heri.

Kepada polisi, pelaku mengaku melakukan aksi itu untuk memancing istrinya agar kasihan kepada anaknya sehingga dikirimkan uang untuk anaknya. Tak hanya itu, aksi tersebut juga dilakukan karena marah akibat tiga hari istrinya tak ada kabar.

"Dalam videonya dia berkata, kalau tiga hari ibumu tidak menelepon, ikatan itu tidak akan dibuka. Itu bentuk ancaman untuk istrinya yang bekerja sebagai TKW. Tujuannya itu agar istrinya kasihan anaknya dipukul, lalu dikirimkan uang," tuturnya.

Pelaku juga mengakui, sebelum kejadian ini terbongkar, dirinya sudah beberapa kali dikirimi uang oleh istrinya. Terakhir dia mendapat kiriman Rp 9 juta, namun uang tersebut tidak digunakannya untuk berjudi.

Atas perbuatannya, pelaku terancam dijerat Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara atau denda Rp 15 juta. (rfs/rfs)