Soal Moderasi Beragama, Menag Kutip Injil dan Bicara Rekontekstualisasi Fikih

Tim detikcom - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 15:18 WIB
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Menag Yaqut Cholil. (Foto: Dok. Situs Kemenag.go.id)

Untuk itu, Yaqut berpandangan bahwa fikih harus direkontekstualisasi. "Padahal fikih harus menyesuaikan perkembangan zaman, harus direkontekstualiasi. Tetapi dalam Islam jarang ada yang berani melakukan rekontekstualisasi ini sehingga di banyak kejadian ini menjadi sumber masalah dan mungkin dalam umat agama lain ada situasi ini. Jadi hukum agama selain Islam ada problem dengan situasi mutakhir yang tidak kompatibel," paparnya.

Dalam moderasi beragama di Indonesia, Yaqut menyampaikan dua kunci utama. Pertama yaitu inklusivitas dan kedua masing-masing umat beragama harus jujur akan kelebihan-kekurangan masing-masing ajaran.

"Saya mungkin mengundang ketidaksetujuan, tetapi saya memiliki keyakinan, moderasi beragama itu yang pertama dituntut itu inklusif dan kedua jujur atas kelebihan sekaligus kekurangan ajaran agama kita, terutama dalam merespons situasi kontemporer," kata Yaqut.

Dalam tugasnya sebagai Menteri Agama, Yaqut menekankan sikap adil kepada semua umat beragama. Ia ingin memposisikan sebagai wasit yang adil.

"Dalam situasi tersebut, saya ingin meletakkan diri saya sebagai wasit yang benar-benar bisa bersikap adil kepada semua pemeluk agama, apa pun agamanya. Tentu ini tidak berhenti hanya jargon," ujarnya.


(dkp/tor)