Novel Baswedan Bicara Isu 'Taliban di KPK': Diembuskan Pendukung Koruptor

Farih Maulana Sidik - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 10:56 WIB
Korban penyiraman air keras Novel Baswedan bicara alasannya tak ikut rekonstruksi yang digelar polisi. Faktor kesehatan jadi alasan ia tak ikut rekonstruksi itu
Penyidik senior KPK Novel Baswedan (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Penyidik senior KPK Novel Baswedan angkat bicara mengenai isu yang sudah lama dimentahkan, yaitu mengenai 'Taliban di KPK'. Novel mengatakan isu itu diembuskan para pendukung koruptor.

"Isu radikal Taliban sudah sering digunakan oleh para pendukung koruptor, padahal jelas itu itu tidak benar dan mengada-ada," kata Novel kepada wartawan, Senin (25/1/2021).

Menurut Novel, isu ini kerap muncul tiba-tiba di saat KPK bekerja dan ada yang terganggu. Novel pun memastikan bila isu seperti itu sarat dengan fitnah.

"Bila isu itu diembuskan biasanya ada kepentingan mereka yang terganggu di KPK dan selama ini memang demikian. Bila KPK sedang bekerja benar untuk perangi korupsi, maka mereka, para pendukung koruptor, menyerang menggunakan isu itu," ujar Novel.

"Yang menyedihkan beberapa waktu terakhir penggunaan isu radikal Taliban dianggap mereka cukup efektif karena cukup banyak orang yang termakan dengan isu tersebut," imbuhnya.

Meski begitu, Novel meyakini publik sudah memahami. Novel berharap isu-isu yang sama ini tidak membuat masyarakat begitu saja percaya.

"Rasanya masyarakat semakin paham bahwa upaya mengganggu dan menyerang pemberantasan korupsi dilakukan dengan segala cara, termasuk dengan cara membuat fitnah dan narasi-narasi seperti itu," ucap Novel.

Beberapa waktu terakhir KPK memang tengah menangani perkara-perkara besar mulai dari kasus suap terkait ekspor benih lobster yang menjerat Edhy Prabowo sewaktu menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan serta yang cukup mengejutkan, yaitu kasus suap terkait bantuan sosial (bansos) untuk penanganan COVID-19 yang menjerat Juliari P Batubara saat aktif sebagai Menteri Sosial (Mensos). Dua kasus itu saat ini masih dalam proses penyidikan di KPK.

Sementara itu, isu Taliban muncul sejak tahun lalu dari Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Saat itu Neta menyebut ada isu perseteruan antara 'polisi Taliban' dan 'polisi India' di KPK.

"Sekarang berkembang isu di internal. (KPK). Katanya ada polisi India dan ada polisi Taliban. Ini kan berbahaya. Taliban siapa? Kubu Novel (penyidik senior KPK, Novel Baswedan). Polisi India siapa? Kubu non-Novel. Perlu ada ketegasan komisioner untuk menata dan menjaga soliditas institusi ini," kata Neta dalam diskusi bertema 'Bersih-bersih Jokowi: Menyoroti Institusi Antikorupsi' di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (5/5/2019).

Neta menyayangkan konflik terjadi di internal KPK. Ia menilai konflik tersebut terjadi karena ketidaktegasan para pimpinan KPK.

"Sejauh ini para komisioner tidak tegas dan cenderung berpihak. Novel kan baru, harusnya mereka bersinergi menjaga soliditas. Jangan karena perkara Novel tidak terungkap, lalu menjadi alasan mereka sangsi terhadap institusi Polri. Novel sendiri kan anggota Polri dulunya," papar Neta.

Tonton juga 'Novel Baswedan Sempat Ingin Keluar, Gegara UU Baru KPK':

[Gambas:Video 20detik]

(fas/dhn)