Satgas: Peningkatan Kasus Corona Bukan karena Varian Baru Seperti di Inggris

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 21 Jan 2021 18:21 WIB
eorang seniman melukis mural di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Timur, Rabu (2/12/2020). Nantinya akan ada 100 tiang TOL yang akan dimural dengan gambar protokol kesehatan.
Mural Protokol Kesehatan (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta - Jubir Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito menegaskan tambahan kasus Corona yang terjadi di Indonesia bukan karena munculnya varian baru seperti di Inggris. Wiku menyebut tambahan kasus COVID saat ini harus dijadikan alarm siaga.

"Saya perlu tegaskan bahwa penambahan kasus positif yang besar saat ini terbukti bukan karena munculnya varian baru seperti yang muncul di Inggris," kata Wiku, dalam jumpa pers melalui YouTube, Kamis (21/1/2021).

Wiku menuturkan, berdasarkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dinyatakan jumlah whole genome sequencing yang dikumpulkan ke bank data influenza di dunia, tidak ditemukan mutasi varian Corona baru B117 yang pertama terdeteksi di Inggris. Namun, lanjut Wiku, mutasi yang banyak ditemukan berjenis D614G.

"Oleh karena itu untuk menekan peluang mutasi virus SARS-CoV-2 y ini kita harus mampu menekan replikasi atau infeksi virus dengan menghambat laju penularan," ujarnya.

"Jika kita lengah atas kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan, maka cepat atau lambat kita sendirilah yang akan menjadi bagian angka penambahan kasus positif maupun berada di ruang perawatan COVID-19. Jangan sampai hal ini terjadi maka dari itu mohon dan waspada dimana pun Anda berada," kata Wiku.

Sebelumnya, Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr Gunadi, SpBA, PhD, mengatakan saat itu mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2 yang mempunyai daya infeksius 10 kali lebih tinggi telah tersebar hampir di seluruh pelosok dunia, sebanyak 77,5 persen dari total 92.090 isolat mengandung mutasi D614G. Sementara di Indonesia sendiri sudah dilaporkan sebanyak 9 dari 24 isolat yang dipublikasi di GISAID mengandung mutasi D614G. (idn/mae)