Moeldoko Ungkap Alasan Jokowi Pilih Calon Kapolri Komjen Listyo Sigit

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 20 Jan 2021 16:58 WIB
Kepala Kantor Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko menegaskan perlunya kesepakatan dalam menyamakan standar protokol kesehatan, status kesehatan yang dapat meningkatkan kepercayaan antara negara ASEAN. Dengan begitu, mobilitas manusia, kegiatan bisnis, dan berbagai fasilitas bisa berfungsi kembali tanpa mengabaikan faktor keamanan dan keselamatan.
Moeldoko (Foto: dok. KSP)
Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengungkap sejumlah kriteria yang menjadi dasar penunjukan calon Kapolri tunggal Komjen Listyo Sigit Prabowo. Moeldoko juga meminta penunjukan Komjen Sigit sebagai calon Kapolri tidak diartikan macam-macam.

"Ya kriterialah. Kan semua ada kriteria. Kapasitas, kapabilitas, loyalitas, integritas, itu bagian dari semua itulah. Jadi semua agregat dari indikator-indikator yang dikenali dari awal itu memunculkan sebuah agregat. Dan agregat itu seseorang akan dipilih begitu. Jadi bukan karena macam-macam. Jangan diartikan macam-macam," kata Moeldoko saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai alasan penunjukan Komjen Sigit sebagai calon Kapolri, Rabu (20/1/2021).

Moeldoko menjelaskan seorang pimpinan tertinggi mempunyai tanggung jawab yang luar biasa. Karena itu, kata Moeldoko, pejabat di bawahnya juga harus mempunyai kemampuan yang luar biasa juga.

"Itu berkaitan dengan capability seseorang. Kapasitas dia dalam mengadopsi berbagai persoalan, dia sudah terbukti. Berikutnya lagi loyalty. Seorang pemimpin harus punya loyalty kepada negara. Itu pasti. Nggak bisa ditawar itu. Integritas satunya kata dengan perbuatan, itu juga yang selalu dilihat. Tanggung jawab dan seterusnya," kata Moeldoko.

"Itu beberapa hal yang menjadi pertimbangan seseorang untuk bisa menduduki jabatan tertinggi di dalam sebuah organisasi itu. Jadi pertimbangannya seperti itu. Bukan yang lain-lain," sambung Moeldoko.

Moeldoko juga menanggapi isu Komjen Listyo Sigit Prabowo melangkahi sejumlah angkatan. Menurut Moeldoko, ada beragam faktor yang dipertimbangkan Presiden Jokowi sehingga memilih Sigit.

"Ya memang begini ya. Satu hal yang juga menjadi pertimbangan kalau kita menempatkan, saya mantan Panglima TNI, memikirkan bagaimana memikirkan antara mempertimbangkan, satu, senioritas, yang kedua, mempertimbangkan yang tadi. Itu. Jadi pasti Presiden sudah memikirkan untuk kepentingan yang lebih besar maka ada pertimbangan-pertimbangan lain. Itu. Jadi ini kan pilihan-pilihan. Pilihan pertama pendekatannya senioritas. Pilihan yang kedua pendekatannya yang tadi beberapa persyaratan tadi," ujar Moeldoko.

Moeldoko menjelaskan penilaian terhadap seseorang yang akan ditunjuk menjadi pejabat itu dilakukan secara menyeluruh. Penilaian itu pun tidak bisa dijelaskan secara matematik.

"Bisa pendekatan senioritas apabila apa yang menjadi pemikiran Bapak Presiden tadi berbagai indikator terpenuhi. Pertanyaannya, apakah mereka tidak terpenuhi? Dalam konteks ini tidak bisa dijelaskan secara matematik karena penilaian itu bisa bersifat jarak dekat, penilaian bisa jarak jauh, penilaian bisa dilakukan dalam keseharian, dari pengalaman empiris yang terjadi selama ini. Jadi penilaian itu bersifat holistik. Holistik memperhatikan berbagai hal, baik dari sisi persyaratan-persyaratan yang tadi, dari sisi psikologinya, dari sisi yang lain-lain," ujar dia.

Sebelumnya, semua fraksi di Komisi III DPR menyetujui Komjen Listyo Sigit Prabowo menjadi Kapolri. Selanjutnya DPR akan menggelar paripurna untuk menyetujui pengangkatan Komjen Sigit.

"Selanjutnya kami menunggu rapat paripurna untuk disetujui DPR dan Komisi III hari ini juga mengirimkan surat ke pimpinan DPR RI agar supaya secepat-cepatnya," kata Wakil Ketua Komisi III Adies Kadir di kompleks gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/1).

Simak video 'Komjen Listyo Ingin Benahi Pelayanan Polri yang Arogan dan Kasar':

[Gambas:Video 20detik]



(knv/fjp)