Bareskrim Buka Kemungkinan Adanya Tersangka Baru di Kasus Grabtoko

Kadek Melda - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 15:23 WIB
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan
Jakarta -

Tim penyidik Bareskrim Polri masih melakukan pendalaman terkait kasus penipuan daring dan pencucian uang yang dilakukan PT Grab Toko (Grabtoko.com). Polri membuka kemungkinan adanya tersangka baru dalam kasus tersebut.

"Sampai saat ini penyidik sedang mendalami bukti-bukti dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi termasuk juga dengan kemungkinan adanya tersangka baru yang masih didalami," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Achmad Ramadhan saat konferensi pers virtual, Selasa (19/1/2021).

Diketahui, pemilik PT Grab Toko Yudha Manggala Putra telah merugikan konsumen sejak awal Desember 2020. Polisi juga telah memeriksa orang pegawai Yudha pada Kamis (14/1) lalu.

Polri mengungkapkan bos Grabtoko.com (Grabtoko), Yudha Manggala Putra (33), telah melakukan dugaan tindak pidana penipuan daring dan pencucian uang. Modusnya dengan menawarkan barang dengan harga sangat murah, lalu saat konsumen melakukan transaksi pembelian barang, barang tak kunjung dikirim kepada pembeli.

"Pelaku meminta bantuan pihak ketiga untuk membuat website belanja daring. Website ini juga diketahui menggunakan hosting di luar negeri," kata Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam keterangan tertulis, Selasa (12/1).

Sigit menuturkan ada 980 pembeli yang melakukan transaksi pembayaran di Grabtoko. Namun Grabtoko hanya mengirimkan barang kepada sembilan pembeli.

"Dari informasi pelaku, diketahui ada sejumlah 980 costumer yang memesan barang elektronik dari situs Grabtoko, namun hanya sembilan customer yang menerima barang pesanan tersebut. Dan sembilan barang yang dikirimkan kepada costumer itu ternyata dibeli pelaku di ITC oleh pelaku dengan harga normal," terang Sigit.

Sigit mengatakan Yudha diduga menggunakan uang konsumennya untuk berinvestasi dalam bentuk crypto currency. Sigit mengatakan dugaan tersebut akan diselidiki dalam berkas perkara terpisah dari berkas perkara yang saat ini disidik pihaknya, yaitu dugaan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi menjelaskan Yudha menyewa kantor di Kuningan, Jakarta Selatan (Jaksel), untuk menunjang aksi kejahatannya. Di kantornya, ada enam pekerja.

"Pelaku menyewa kantor di kawasan Kuningan, dan mempekerjakan enam orang karyawan costumer service, yang bertugas untuk meminta tambahan waktu pengiriman barang apabila ada konsumen yang bertanya mengapa barang pesanannya tidak kunjung dikirimkan," jelas Slamet.

Dia mengungkapkan keenam pelaku dibekali laptop oleh Yudha, kendati laptop tersebut bukan inventaris kantor milik Yudha, melainkan barang yang disewa dari orang lain. "Keenam costumer service tersebut bekerja dengan dengan dibekali laptop oleh pelaku, yang ternyata didapatkan dengan cara menyewa dari orang lain," imbuh Slamet.

Dari tangan Yudha, polisi menyita 4 unit ponsel pintar, 1 komputer jinjing, 2 kartu SIM ponsel, KTP atas nama Yudha, 1 alat elektronik untuk transaksi bank, dan 5 buah akses cohive kantor Grabtoko lantai 12 A Plaza 89 Kuningan.

(knv/knv)