Klaster Keluarga Jadi Tren Penyebaran Corona Tertinggi di Surabaya

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 12:44 WIB
Poster
Foto ilustrasi klaster keluarga. (Edi Wahyono/detikcom)
Surabaya -

Hasil tracing warga di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim), telah dilaporkan oleh para camat kepada Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Surabaya. Berdasarkan analisis, penyebaran COVID-19 tertinggi berasal dari klaster keluarga.

"Hasilnya terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan seseorang tersebut tertular ataupun dinyatakan terkonfirmasi COVID-19, antara lain, kontak erat keluarga yang dinyatakan terkonfirmasi COVID-19 dengan persentase 28 persen," kata Wakil Sekretaris Satgas COVID-19 Surabaya Irvan Widyanto kepada wartawan, Selasa (19/1/2021).

Berdasarkan hasil tracing sepekan, pada 10-17 Januari 2021, terdapat sampel 150 kasus terkonfirmasi Corona. Selain karena kontak erat keluarga, hasil analisis berikutnya, tingginya penyebaran Corona juga pada pasien yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta, di mana angka pasien yang dengan sendirinya menjalani pemeriksaan ke RS sebesar 24,7%.

Selanjutnya faktor penyebaran Corona yang tinggi di Surabaya akibat bepergian keluar kota sebanyak 14,7% dan penularan di tempat kerja 12,7%, keramaian atau kerumunan sebesar 10%, pekerja di RS atau tenaga kesehatan di angka 7,3%. Kasus positif Corona yang ditemukan saat pasien sedang melengkapi syarat perjalanan sebesar 2,6 persen

"Dari 150 sampel kasus terdapat 68% orang terkonfirmasi COVID-19 melaksanakan isolasi di rumah/apartemen, dan 25% melaksanakan isolasi di RS/tempat yang disediakan oleh pemerintah/swasta, dan 7% di tempat lainnya," papar Irvan.

Berdasarkan data tersebut, Irvan menekankan perlunya evaluasi terkait isolasi mandiri di rumah. Sebab, faktor penyebaran Corona tertinggi di Surabaya adalah kontak erat dari keluarga yang terkonfirmasi COVID-19, sehingga menciptakan klaster keluarga.

"Penguatan 'Kampung Wani Jogo Suroboyo' untuk memonitor warganya yang baru saja bepergian dari luar kota/negeri. Perlu dilakukan penanganan cepat/tracing untuk kontak erat pasien terkonfirmasi agar pemutusan mata rantai COVID-19 dapat terkendali," ucap Irvan.

Menurutnya, sangat perlu adanya pelaporan dari stasiun, bandara, maupun biro perjalanan ke Satgas Penanganan COVID-19 untuk menunjukkan hasil tes bagi calon penumpang. Kemudian perlunya pengawasan protokol kesehatan di perkantoran atau tempat kerja.

"Kami juga mengimbau, kalau tidak urgent tidak usah bepergian. Kasihan keluarga yang di rumah jadi tertular kalau habis bepergian lalu positif," pungkasnya.

(aud/aud)