Terdampak Banjir, Warga di Barito Kuala Kalsel Kesulitan Air Bersih

Tim Detikcom - detikNews
Minggu, 17 Jan 2021 17:32 WIB
Terdampak Banjir, Warga di Barito Kuala Kalsel Kesulitan Air Bersih
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel), turut terdampak banjir akibat curah hujan tinggi sejak beberapa hari terakhir. Salah seorang warga terdampak banjir bernama Kemal, yang tinggal di Kompleks Persada Raya 3, Jalur Persada Permai Baru, Perumahan Cluster Antasari, Kelurahan Semangat Dalam, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel.

Kemal mengatakan awalnya pada Senin lalu banjir di depan rumahnya masih setinggi mata kaki, akan tetapi puncaknya pada hari Selasa lalu air sudah berada di ketinggian selutut orang dewasa. Ada warga yang rumahnya mulai dimasuki air, ketinggian tertinggi diperkirakan 70-80 cm atau setinggi paha orang dewasa, tetapi rumah yang berada di dataran lebih tinggi ketinggian airnya mencapai 50-60 cm.

"Puncaknya sudah 2 malam ini sudah mencapai teras warga sebagian yang rumahnya di depan, habis itu yang rumahnya di belakang sudah masuk ke dalam rumah tapi tetap bertahan di rumahnya. Sekarang air masih sepaha orang dewasa sekitar 70-80 cm yang terdalam, tapi yang rumahnya di tengah 50-60 cm itu sudah di teras. Kenaikan air kalau siang itu dia turun, tapi di atas jam habis Isya jam 10 malam ada yang masuk rumah, sudah 2 malam terakhir ini," kata Yoshi saat dihubungi, Minggu (17/1/2021).

Kemal mengatakan pada hari pertama banjir dia masih dapat membeli air bersih dan persediaan makanan ke toko dengan berjalan kaki. Akan tetapi kini penjual air bersih sudah kehabisan stoknya, sementara itu saat ini ia juga kesulitan membeli sayuran atau bahan pokok lainnya karena hingga saat ini belum ada pula bantuan perahu karet ke lingkungannya untuk memudahkan transportasi.

"Kalau bantuan makan jujur kita nggak dapat apa-apa, tapi kita nggak mengharapkan itu sih sebenarnya kalau kita butuh dukungan moral seperti bantuan perahu atau air bersih. Soalnya air bersih PDAM udah nggak jalan dari hari Senin," ujarnya.

"Listrik hidup, makanya masih bertahan, tapi nyedot airnya pakai mesin pompa nggak bisa dapat air bersih. Kemarin 2 hari pertama masih bisa sempat beli air galon di depan itu jalannya sudah hampir 1,5 km jalan kaki, sudah nggak bisa apa-apa, makanya kita butuh bantuannya perahu atau sampan. Kemarin itu sudah habis orang jual air galon, itu yang masalahnya," ujarnya.

Sementara itu, ia mengatakan kebanyakan warga di lingkungannya mengevakuasi diri sendiri dengan sampan buatan. Ada yang membuatnya dari ban, drum minyak, pohon pisang, hal itu karena warga belum mendapat bantuan perahu karet.

Sebab, menurutnya, kompleksnya berada di dalam kompleks lain sehingga diperkirakan belum terpantau. Meski begitu, ia mengatakan biasanya air akan surut pada siang hari dan kemudian akan kembali naik pada malam hari sehingga membuatnya waswas dan sulit tidur pada malam hari.

"Hari ini kita dapat bantuan, cuma berupa air mineral dan mi goreng itu dari warga asli kompleks yang bantu. Karena kalau kita sih nggak negative thinking juga mungkin karena orang tahunya kita di dalam, yang terdampak ini ada 4 kompleks, kompleks di depan itu kompleks Persada Raya 3, Persada Raya 2, Persada Raya 1, di depan sana memang ada posko tapi nggak masuk ke dalam kompleks kita, karena kita ini perumahan yang paling terakhir di belakang. Karena kalau kita kompleks di dalam kompleks, makanya nggak tersentuh," ujarnya.

Ia berharap banjir dapat segera surut dan dapat mendapat pasokan air bersih, perahu karet, dan stok makanan. Sebab, ia menyebut, sejak Senin, baru hari ini mendapatkan bantuan dari warga kompleksnya.

(yld/dhn)