KRI Teluk Ende Bawa 30 Ton Sembako-Obat untuk Korban Gempa Mamuju

Hermawan Mappiwali - detikNews
Jumat, 15 Jan 2021 21:20 WIB
KRI Teluk Ende berangkat dari Lantamal IV Makassar menuju Mamuju dengan membawa bantuan 30 ton berupa obat dan sembako untuk korban gempa (Hermawan Mappiwali/detikcom)
KRI Teluk Ende berangkat dari Lantamal IV Makassar menuju Mamuju dengan membawa bantuan 30 ton berupa obat dan sembako untuk korban gempa. (Hermawan Mappiwali/detikcom)
Makassar -

Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Ende saat ini membawa 30 ton bantuan berupa obat dan sembako ke wilayah terdampak gempa di Sulawesi Barat (Sulbar). Satu tim tenaga kesehatan (nakes) juga diikutkan ke Sulbar.

"Kita akan droping tenaga kesehatan, baik dokter maupun tenaga kesehatan yang lain, obat-obatan, dan lain sebagainya yang ada kaitannya dengan kesehatan masyarakat," kata Komandan Lantamal VI (Danlantamal VI) Laksamana Pertama TNI Benny Sukandari kepada wartawan di KRI Teluk Ende, Jumat (15/1/2021).

KRI Teluk Ende bertolak dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), sejak pukul 16.00 Wita dan dijadwalkan tiba di Lanal Mamuju, pada Sabtu (16/1). Benny mengatakan bantuan logistik terdiri atas bahan pokok, seperti beras.

"Logistik yang bisa kita tampung karena kita tidak punya banyak waktu. Kita membawa kurang-lebih 15 ton beras, 500-800 kilogram gula, air mineral baik dalam gelas maupun botol ataupun galon kita cukup banyak tadi. Mi sudah masuk, kurang-lebih 2 truk dan lain sebagainya. Total bisa sampai 30 ton," tutur dia.

Diketahui, bantuan nakes dan logistik di KRI Teluk Ende dijadwalkan bersandar di Lanal Mamuju. Dari titik tersebut bantuan akan didistribusikan ke korban gempa di Mamuju hingga Majene.

KRI Teluk Ende berangkat dari Lantamal IV Makassar menuju Mamuju dengan membawa bantuan 30 ton berupa obat dan sembako untuk korban gempa (Hermawan Mappiwali/detikcom)Sembako untuk korban gempa di Sulbar yang diangkut KRI Teluk Ende (Hermawan Mappiwali/detikcom)

Benny juga mengatakan operasi kemanusiaan melalui KRI Teluk Ende akan berlangsung sepekan ke depan. Namun estimasi waktu tersebut bisa diperpanjang.

"Kalau memang tujuh hari ke depan belum selesai, tentu nanti kita perpanjang sesuai dengan eskalasi yang diharapkan pemerintah provinsi setempat," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2