HRS Disebut Bahayakan Umat karena Tutupi COVID, Ini Jawaban Pengacara

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 15 Jan 2021 17:36 WIB
Ketua Bantuan Hukum FPI Sugito Atmo Prawiro
Sugito Atmo Prawiro (Isal Mawardi/detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDIP Rahmad Handoyo menyebut tindakan Habib Rizieq Shihab yang dianggap menutupi hasil swab positif Corona dapat membahayakan umat. Kuasa hukum Habib Rizieq, Sugito Atmo Prawiro, membantah kliennya telah menutupi hasil swab.

"Jadi, pada waktu ceramah di Petamburan atau peletakan batu pertama di masjid di Megamendung, beliau sudah swab di Saudi dan sudah rapid di Jakarta begitu sampai," ujar Sugito saat dihubungi, Jumat (15/1/2021).

Sugito tak tahu detail soal kapan Habib Rizieq positif COVID. Dia meminta hal tersebut ditanyakan ke RS UMMI. Namun dia menegaskan, saat dirawat di RS UMMI, Habib Rizieq sama sekali tak bertemu dengan orang lain.

"Pada waktu dari Rumah Sakit UMMI, Habib tidak pernah komunikasi dengan orang-orang tidak punya kepentingan. Jadi Habib Rizieq, siapa pun tidak mau zalim kepada orang lain. Jadi di sini intinya Habib Rizieq sedang dicari salahnya," katanya.

Sebelumnya, Rahmad Handoyo mengkritik keras Habib Rizieq soal kondisinya yang sempat positif COVID. Politikus PDIP itu mengatakan menutupi hasil tes swab bisa membahayakan umat sekitar.

"Untuk itu, dalam kesempatan ini, saya mengimbau kepada siapa pun, yang telah dinyatakan positif bukanlah aib. Toh, justru harus berterus terang diberikan informasi kepada para pihak yang kontak erat untuk lebih hati-hati dan tracing, dalam rangka pengendalian penyebaran COVID," kata Handoyo kepada wartawan, Jumat (15/1).

Handoyo mengatakan siapa pun yang dinyatakan positif bisa berpotensi membahayakan orang sekitar. Dia menilai sikap Habib Rizieq yang seolah menutupi itu tidak membantu pemerintah menangani COVID.

"Dan kepada siapa saja yang dinyatakan positif namun menutupi, akan sangat berbahaya buat orang di sekelilingnya. Orang yang pernah kontak erat dan macam ini adalah tidak membantu pemerintah dalam pengendalian COVID-19, namun justru berbahaya buat umat sekitar maupun keluarganya." ujarnya.

(man/tor)