Tenaga Ahli ROV Litbang ESDM Bantu Pencarian Pesawat Sriwijaya SJ-182

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Kamis, 14 Jan 2021 17:25 WIB
Kementerian ESDM
Foto: Kementerian ESDM
Jakarta -

Badan Litbang ESDM turut membantu misi pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Badan Litbang ESDM mengirimkan dua tenaga ahli Pilot Remotely Operated Vehicle (ROV) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, yakni Sangat dan Sahnedi, untuk bergabung dengan tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) di Kapal SAR KN Karna sejak Minggu lalau (11/1)

Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, Sangat dan Sahnedi ditugaskan untuk membantu pengoperasian ROV Basarnas, karena keterbatasan pilot yang mampu mengoperasikan ROV di tanah air. Diketahui sebelumnya, Sangat juga ditugaskan sebagai tenaga ahli pada pencarian lokasi tenggelamnya kapal penumpang Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara (2018) dan kapal pengangkut nikel Nur Allya di perairan Halmahera (2019).

Menurutnya, alat bantu seperti ROV memiliki peranan penting dalam sebuah misi pencarian. Sebab, rekaman gambar yang dihasilkan dapat membantu para penyelam dalam menentukan titik lokasi yang lebih akurat, sehingga mempercepat masa pencarian.

"Operator akan menerima dokumentasi, baik rekaman video, foto dan hasil pengamatan lainnya saat mengoperasikan atau melakukan downloading data setelah pengamatan apabila ROV dilengkapi teknologi penyimpan data," lanjutnya dalam keterangan tertulis, Kamis (14/1/2021).

Dadan menjelaskan, pada dasarnya ROV merupakan kendaraan bawah air tanpa awak, yang dioperasikan secara otomatis ataupun dengan remote kontrol, bahkan dari jarak jauh di atas kapal. Ia menilai, alat ini dapat mempermudah pekerjaan operator untuk masuk ke dalam perairan, bahkan perairan dengan kondisi yang ekstrem dan sulit dijangkau oleh manusia sekalipun.

Lebih lanjut dikatakan Dadan, ROV telah dilengkapi dengan peralatan atau sensor tertentu sesuai keperluan dan tujuan operasi kapal, seperti kamera video, transponder, kompas, odometer, bathy (data kedalaman) dan alat lainnya. Beberapa ROV juga dilengkapi sonar, magnetometer, manipulator atau lengan untuk memotong, mengambil sampel air, serta instrumen mengukur kejernihan air, penetrasi cahaya dan suhu.

"Sistem kendali pada ROV berupa sistem peluncuran dan sistem suplai tenaga listrik maupun hidrolik. Tenaga listrik dan hidrolik, perintah atau sinyal kontrol disampaikan dari ruang kontrol ke ROV, secara dua arah melalui kabel umbilical," paparnya.

Sistem ROV, lanjutnya, terdiri atas kendaraan (atau sering disebut ROV itu sendiri), yang terhubung oleh kabel umbilical ke ruangan kontrol operator untuk melakukan kontrol dari atas permukaan air (bisa di kapal, rig atau barge), permukaan dan ditambatkan bersamaan dengan kabel yang membawa sinya listrik, video dan data dari alat ke operator, begitupun sebaliknya.

Lebih lanjut Dadan juga menjelaskan terkait perbedaan dari pencarian di laut dan di dalam perairan. Menurutnya, pencarian dan penyelamatan di laut bergantung pada keandalan penyelam serta alat bantu pencarian. Berbeda dengan pencarian di dalam perairan yang banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Jika cuaca cerah, maka jarak pandang para penyelam dapat mencapai lebih dari lima meter. Bila cuaca kurang kondusif, jarak pandang para penyelam sangat terbatas, sehingga menyulitkan pencarian dan pencarian pun membutuhkan waktu yang lebih lama.

(mul/mpr)