RI Diminta Perkuat Kerja Sama ASEAN di Tengah Persaingan AS-China

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 10:05 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Di tengah persaingan Amerika Serikat dan China, pemerintah disarankan untuk memperkuat kerja sama ASEAN dalam sektor ekonomi. Menurut Pakar dari National University of Singapore, Prof Kishore Mahbubani dengan jumlah penduduk sekitar 650 juta, ASEAN dinilai punya posisi strategis dalam menentukan arah ekonomi dunia ke depan.

"(Sebab) perseteruan geopolitik antara AS dan China tersebut masih akan berlangsung hingga 10 tahun ke depan. Kondisi ini akan selalu terjadi lantaran China yang masih mau menyalip AS sebagai kekuatan terbesar dunia," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (13/1/2021).

Hal ini diungkapkannya dalam diskusi yang diselenggarakan GOLKAR Institute secara virtual Selasa (12/1). Di pun menilai saat ini kondisi sosial politik di AS memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan penyerbuan Gedung Capitol oleh pendukung Presiden Donald Trump awal Januari ini.

Menurutnya, dengan merujuk keterangan beberapa ahli, kondisi AS saat ini sudah menjadi sebuah plutokrasi. Kondisi ini yaitu kekuasaan dipegang segelintir orang kaya. Namun, puluhan juta rakyat AS mengalami kemerosotan ekonomi yang riil selama 30 tahun terakhir.

Maka dari itu, ia menyampaikan figur Presiden terpilih AS, Joe Biden akan jadi penentu untuk memulihkan kondisi negara adidaya tersebut. Salah satunya keretakan hubungan politik di masyarakat yang terjadi di era Trump harus diperbaiki.

"Kedepannya, bisa jadi AS akan pulih dan kembali menguat, atau semakin terpuruk," jelas Mantan Diplomat Singapura itu.

Sementara itu, di tengah pandemi ini, kata dia, China memperlihatkan kualitasnya kepada dunia. Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China menunjukkan bahwa negara itu dapat menangani kondisi wabah COVID-19 dengan efektif.

Dia pun memuji kualitas birokrasi di China termasuk yang terbaik di dunia. Alasannya, birokrasi China merekrut orang yang terukur dengan kualifikasi ranking terbaik di sekolahnya.

Mahbubani menyarankan untuk Indonesia agar bisa netral dan tak terlibat kepentingan China maupun AS. Namun, hubungan baik harus tetap dijaga dengan pemerintah dua negara tersebut. Pesan ini, kata dia, akan lebih kuat jika disampaikan secara kolektif dalam wadah ASEAN. Sebab, ASEAN mewadahi 10 negara dan 650 juta penduduk.

"Jangan paksa kami untuk memihak pada AS atau China. Tapi, kami ingin menjaga hubungan baik dengan keduanya," ujar Mahbuani.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyampaikan negara-negara yang tergabung dalam Indo-Pasifik dan perjanjian perdagangan bebas atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) sepakat bersikap netral dalam persaingan China-AS.

Airlangga yang juga Menko Perekonomian ini mencontohkan Indonesia membeli vaksin COVID-19 dari perusahaan AS dan juga perusahaan China. Hal ini dilakukan seiring Indonesia yang juga sedang mengembangkan vaksin secara mandiri.

"Penting juga bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pemerintahan dan politik, agar pembangunan dapat memberi manfaat bagi semua orang dan kondisi politik tetap stabil," jelas Airlangga.

Sebagai informasi, diskusi virtual Golkar Institute ini juga dihadiri elite Partai Golkar lainya seperti Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, Sekjen DPP Partai Golkar, Lodewijk F Paulus, Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin, Ketua Golkar Institute, Ace Hasan Syadzily.

"Golkar Institute akan mengadakan kajian geo-politik ini secara rutin dengan menghadirkan narasumber berkualitas. Seharusnya, pada bulan Januari 2021 ini kami menggelar kursus pendidikan Pemerintahan bagi Kepala Daerah Terpilih Pilkada 2020. Namun, karena kebijakan PPKM Jawa-Bali, kegiatan ini ditunda pelaksanaannya pada awal Februari 2021," pungkas Ace Hasan yang juga Ketua DPP Partai Golkar.



Simak Video "Klaim Menangi Pilkada 2020, Airlangga: Modal Pokok Pemilu 2024"
[Gambas:Video 20detik]
(akd/ega)