Round-Up

Investigasi Ungkap Sriwijaya Air Tak Meledak di Udara

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 06:59 WIB
Petugas Basarnas melihat temuan bagian mesin turbin pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak dari KRI Cucut (886) di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (10/1/2021). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Petugas Basarnas melihat temuan bagian mesin turbin pesawat Sriwijaya Air SJ 182. ( Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta -

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap investigasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu. Pesawat SJ182 itu disebut kemungkinan besar tidak meledak di udara.

Tragedi ini berawal saat pesawat dengan rute Jakarta-Pontianak jatuh di perairan Kepulauan Seribu, pada Sabtu, 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB. Pesawat hilang kontak setelah 4 menit mengudara.

Operasi SAR masih terus dilakukan hingga saat ini. Bagian serpihan pesawat serta sejumlah bagian tubuh manusia yang diduga korban Sriwijaya Air sudah mulai ditemukan.

Tim Basarnas memperluas areal pelaksanaan pencarian melalui udara. Perluasan tersebut dilakukan guna memaksimalkan pencarian serpihan pesawat dari Sriwijaya Air.

KNKT: Pesawat Tidak Meledak di Udara

KNKT menyebut pesawat Sriwijaya itu meledak di satu titik.

"Ya kalau selama ini informasinya ya memang ini seperti yang dikatakan oleh Pak Ketua KNKT bahwa kemungkinan besar pesawat itu jatuhnya di satu titik artinya dia tidak meledak di udara. Jadi dia betul-betul di satu poin, cuman kan ketika dia di satu poin juga bisa saja menyebar di beberapa meter mudah-mudahan tidak lebih dari 200 meter jadi kita gunakan fokus di situ," kata Investigator Keselamatan Pelayanan KNKT Bambang Irawan kepada wartawan di atas Kapal Riset Baruna Jaya IV, Selasa (12/1/2021).

Bambang menerangkan pesawat Sriwijaya Air SJ182 itu kemungkinan meledak di laut Kepulauan Seribu.

Hal ini, sebut Bambang, bisa saja terjadi lantaran penurunan ketinggian pesawat ketika sampai di 250 kaki.

"Iya betul (meledak di laut) jadi sesuai dengan yang disampaikan Pak Ketua demikian. Jadi karena proses penurunan ketinggian juga didapat diikuti demikian, jadi pesawat tersebut sampai di ketinggian 250 kaki masih dalam keadaan utuh. Jadi kemungkinan besar sampai ketika dia menyentuh di air dengan kedalaman 20 meter ya dia dengan kecepatan yang cukup tinggi ya tentu akan menjadi impact yang sangat kuat," ungkap Bambang.

Selanjutnya
Halaman
1 2