LP3ES Luncurkan Buku, Soroti Kemunduran Demokrasi Saat Pendemi Corona

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 11 Jan 2021 19:20 WIB
Peluncuran buku Nestapa Demokrasi di Masa Pandemi LP3ES
Foto: Peluncuran buku Nestapa Demokrasi di Masa Pandemi LP3ES (YouTube LP3ES)
Jakarta -

Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) meluncurkan buku berjudul 'Nestapa Demokrasi di Masa Pandemi: Refleksi 2020, Outlook 2021'. Buku tersebut menyoroti kondisi demokrasi di Indonesia selama pandemi Corona.

Director for media and democracy LP3ES yang juga salah satu penulis buku, Wijayanto mengatakan buku ini terdiri dari 10 bab dan 240 halaman. Dia mengatakan buku ini menyoroti proses demokrasi sepanjang tahun 2020 dan pandangan di 2021.

"Di bab itu meskipun ada 10 bab, semua chapter itu mendukung satu argumen utama yaitu bahwa berdasarkan riset kita, refleksi kita bagaimana demokrasi berlangsung di tahun 2020 kita menemukan bahwa terjadi situasi kemunduran demokrasi yang di-real-kan di bab pertama," kata Wijayanto melalui siaran YouTube LP3ES, Senin (11/1/2021).

Kemunduran demokrasi ini kata Wijayanto bukan tanpa sebab. Dia mengatakan ada tiga yang menyebabkan terjadinya kemunduran demokrasi.

"Menurut refleksi dari berbagai literatur kita memang mengalami kemunduran demokrasi. Nah mengapa dia terjadi? Setidaknya ada tiga faktor yang berkelindan di sana. Pertama adalah faktor struktural semakin terkonsolidasinya oligarki, faktor agensi di mana pemimpin terpilih secara demokratis sudah memunggungi demokrasi, lalu ada faktor kultural di mana publik masih setengah hati mendukung demokrasi, lalu ditambah ada makin melemahnya masyarakat sipil dan bahkan situasi demokrasi kita di bab dua kita jelaskan telah terjadi praktik-praktik otoritarianisme," jelasnya.

"Mungkin sistem ini belum berubah, tapi otoriter, praktik otoriterisme itu telah ada dan itu menjadi penanda dari kemunduran demokrasi yang cukup serius," sambungnya.

Dia mengatakan terjadinya kemunduran demokrasi itu ada 4 faktor. Faktor pertama menjadi penanda kemunduran demokrasi adalah lemahnya oposisi.

"Ada 4 faktor yang menjadi penanda di sana, yaitu semakin lemahnya oposisi, tidak diindahkannya aturan main, pembatasan pembatasan sipil termasuk media, nanti bisa dibukunya lebih jauh," tutur Wijayanto.

Wijayanto mengatakan kemunduran demokrasi itu sudah tampak pada awal tahun 2020. Lalu berlanjut di tengah pandemi.

"Situasi tadi menjadi prakondisi kita menjalani tahun 2020, pada situasi itu pandemi datang, maka respons kita terhadap pandemi adalah refleksi dari keadaan kita secara struktural, yaitu bahwa oligarki jauh lebih kuat daripada masyarakat sipil, lalu kemudian dia menyetir kebijakan-kebijakan kita selama pandemi," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2