Sriwijaya Air Jatuh, Ini 5 Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 10 Jan 2021 18:19 WIB
Jakarta -

Pesawat milik maskapai Sriwijaya Air jatuh pada Sabtu, 9 Januari 2021 di sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Jakarta sekitar pukul 14.40 WIB setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta.

Jatuhnya pesawat dengan nomor penerbangan SJ-182 tujuan Pontianak, Kalimantan Barat itu menambah daftar kecelakaan pesawat komersial di Indonesia yang merenggut nyawa puluhan hingga ratusan orang.

Terakhir sekitar 2 tahun lalu, pesawat milik maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di kawasan pantai Karawang, Jawa Barat yang menewaskan 189 penumpang dan kru pesawat.

Ini 5 Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia sebelum Sriwijaya Air jatuh:

1. Lion Air JT-610 di Karawang, Jawa Barat pada 2018

Peristiwa kecelakaan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 terjadi pada 29 Oktober 2018. Pesawat naas ini rencananya terbang menuju Pangkal Pinang setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.

Penerbangan ini menggunakan pesawat jenis Boeing 737 MAX 8. Boeing 737 MAX 8 saat itu dikenal baru saja dirilis oleh pabriknya. Baru 13 menit mengudara pesawat tersebut tiba-tiba hilang kontak sekitar pukul 06.33 WIB.

Sebanyak 189 orang yang terdiri dari 179 penumpang dewasa, 1 penumpang anak, 2 bayi, 2 pilot, 5 kru dinyatakan tewas dalam jatuhnya pesawat di lepas pantai Kabupaten Karawang, Jabar tersebut.

Investigasi menyebutkan penyebab jatuhnya pesawat tersebut adalah faktor Computer Controlled Stability System yang dikenal sebagai MCAS (Maneuvering Characteristic Augmentation System).

MCAS ini sebenarnya berfungsi mencegah terjadinya gejala stall pada pesawat. Sayangnya alat yang mengukur sudut pesawat saat terbang memberi indikator keliru pada MCAS sehingga menyebabkan menukik dan jatuh.


2. AirAsia QZ8501 di perairan Kalimantan Tengah pada 2014

Pesawat milik maskapai AirAsia ini hilang kontak setelah 50 menit lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur. Rencananya pesawat dengan nomor penerbangan QZ8501 akan menuju Singapura pada 28 Desember 2014.

Pesawat tipe Airbus A320 dengan registrasi PK-AXC tersebut mengangkut 155 penumpang dan 7 kru. KNKT belakangan merilis hasil investigasi penyebab kecelakaan tragis itu.

Faktor cacat komponen pesawat, perawatan pesawat, dan awak pesawat yang tidak melakukan prosedur disebut berkontribusi atas peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia itu.


3. Adam Air KI-574 di Selat Makassar pada 2007

Tahun Baru 2007 diawali berita menyedihkan dari dunia penerbangan kala pesawat milik maskapai Adam Air jatuh di Selat Makassar. Pesawat Boeing 737-400 buatan tahun 1990 itu sedang menerbangi rute Surabaya-Manado.

Jumlah penumpang terdiri dari 96 orang yang terdiri dari 85 orang dewasa, 7 anak-anak, 5 balita, 4 awak kabin serta pilot dan kopilotnya. Hanya saja tak ada jasad korban yang ditemukan.

Flight Data Recorder (FDR) baru berhasil diangkat pukul 12.29 WIB tanggal 27 Agustus 2007 di kedalaman 2.000 meter. Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan pukul 10.00 WIB tanggal 28 Agustus di kedalaman 1.900 meter.


4. Mandala Airlines RI 091 di Medan, 2005

Insiden pesawat Mandala Airlines jatuh terjadi pada 5 September 2005. Pesawat nomor penerbangan RI-091, meledak dan menewaskan 94 penumpang dan 5 awak pesawat. Selain itu 50 warga yang berada di dekat lokasi kejadian turut tewas.

Pesawat jenis Boeing 737-200 buatan tahun 1981 ini meledak tidak lama setelah lepas landas dari Bandara Polonia, Medan, pada pukul 10.06 WIB. Badan pesawat menabrak pagar landasan dan kemudian menghantam kawasan perumahan.

KNKT mengambil kesimpulan pesawat Mandala Airlines naas itu lepas landas dengan konfigurasi lepas landas yang salah.

5. Garuda Indonesia GA-152 di Deli Serdang, Sumut pada 1997

Peristiwa ini merupakan salah satu kecelakaan terburuk di Indonesia dengan jumlah korban sebanyak 234 orang. Pesawat ini lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Polonia, Medan pada 26 September 1997.

Pesawat ini direncanakan mendarat pada pukul 13.58 WIB. Namun beberapa menit sebelum mendarat pesawat yang dipiloti Capt. Rachmo Wiyogo itu menabrak perbukitan Sibolangit.

Peristiwa yang terjadi 24 tahun sebelum pesawat Sriwijaya Air jatuh di Kepulauan Seribu ini tercatat sebagai kecelakaan dengan jumlah korban tertinggi di Indonesia.

(pal/lus)