Andre Rosiade Minta Impor KA Bekas Disetop, Utamakan Produk INKA

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Kamis, 07 Jan 2021 13:40 WIB
Seorang masinis memeriksa kesiapan rangkaian kereta api (KA) Maharani sebelum berangkat di Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/12/2020). PT KAI (Persero) Daop 4 Semarang dalam menghadapi masa Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020/2021 di tengah Pandemi COVID-19, menyiagakan berbagai fasilitas kesehatan di 12 stasiun, penerapan protokol kesehatan ketat, serta menyiagakan 16 lokomotif untuk perjalanan 56 KA jarak jauh maupun lokal. ANTARA FOTO/Aji Styawan/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/AJI STYAWAN
Jakarta -

Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade meminta impor kereta bekas dari Jepang disetop. Politikus Gerindra ini meminta produk dalam negeri, dalam hal ini adalah kereta buatan BUMN PT INKA, diutamakan.

"Saya selaku anggota Komisi VI melihat, bahwa PT INKA sudah berkembang menjadi perusahaan yang memproduksi, perkeretaapian kelas dunia. Karena selain memenuhi konsumsi dalam negeri, INKA juga sudah berhasil menjual produknya ke Filipina, Bangladesh, Kongo," tutur Andre dalam keterangannya, Kamis (7/1/2021).

Ia menjelaskan dalam pengadaan di tiga negara itu, INKA berhasil mengalahkan berbagai pabrikan kereta api dari berbagai negara. Ini menjadi bukti kehebatan produsen dalam negeri.


"Bahkan China pun bisa dikalahkan. Ini menunjukkan bahwa INKA ini harganya sangat kompetitif. Dan secara teknologi kereta api produksi INKA saat ini yang bekerja sama dengan Swiss, sudah punya teknologi yang canggih. Sehingga tak ada alasan bagi PT KAI untuk utamakan impor kereta api bekasi dari Jepang," tutur Andre.

Andre kemudian menyampaikan dua sikapnya. Pertama, Ketua DPD Gerindra Sumbar ini mendorong agar Kementerian BUMN meminta kepada KAI untuk melarang impor kereta api bekas. Kedua, mendorong Kementerian Perindustrian untuk konsisten melaksanakan Peraturan Menteri Nomor 3 Tahun 2014 soal TKDN, sehingga laju impor kereta api bekasi bisa dihentikan.

"Bagaimanapun juga KAI harus menopang industri dalam negeri. Jangan sampai INKA sudah disuruh bangun pabrik baru yang berteknologi tinggi, sesuai arahan presiden Jokowi di Banyuwangi, itu menjadi sia-sia. Yang di Jepang sendiri, kereta itu sebetulnya mau dibuang," kata Andre.


Di sisi lain, Andre juga mendapatkan kabar bahwa INKA menawarkan sejumlah skema kepada KAI untuk bersinergi, sehingga bisa tercipta efisiensi.

"INKA juga sudah menawarkan kepada KAI untuk tidak perlu melakukan pembelian, bisa melakukan rental misalnya. Di sisi KAI ini akan terjadi efisiensi. Hal ini bisa dibicarakan di internal Kementerian BUMN bersama KAI dan INKA," kata Andre.

"Saya minta ketegasan Kementerian Perindustrian jangan memberi ruang untuk impor kereta api bekas lagi. Sudah saatnya RI bisa berdikari. Dan INKA mampu untuk itu karena sudah terbukti," pungkas Andre.

Andre juga menyebut pada 25 Maret 2019 silam, Presiden Jokowi yang saat itu tengah cuti kampanye menyatakan PT INKA siap untuk membangun industri kereta api terbesar di Nusantara di Banyuwangi.

"Dan ada BUMN PT INKA kita siapkan membangun industri kereta api terbesar se-Indonesia di Banyuwangi. Ini kita harapkan bisa terus memajukan daerah, menyejahterakan rakyat," ujar Jokowi waktu itu.

(mul/ega)