Laut China Selatan Memanas, MPR: Kedepankan Pendekatan Diplomasi

Erika Dyah - detikNews
Kamis, 07 Jan 2021 11:21 WIB
Syarief Hasan
Syarief Hasan Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan mendorong pemerintah untuk siap siaga di Perairan Natuna Utara. Pasalnya, kondisi Laut China Selatan yang bersentuhan dengan Laut Natuna Utara kian memanas. Ini terjadi karena adanya perseteruan antara China dan Amerika Serikat.

Syarief meminta pemerintah juga militer di Natuna Utara secara khusus dan Indonesia secara umum untuk dapat meningkatkan perhatian terhadap Natuna Utara. Upaya ini merupakan langkah antisipasi dalam mempertahankan wilayah Indonesia jika suatu saat perang terbuka terjadi.

"Jika terjadi perang terbuka di Laut China Selatan maka seluruh negara Asia Tenggara termasuk Indonesia akan merasakan dampaknya. Sehingga, Pemerintah Indonesia harus memberikan perhatian khusus dalam membangun kekuatan militer untuk meminimalisir bahkan mencegah dampak apabila terjadi perang terbuka," ungkap Syarief dalam keterangannya, Kamis (7/1/2021).

"China yang membuat klaim sepihak terhadap Laut China Selatan berdasarkan nine dash line menyebabkan Amerika Serikat juga turut ikut campur. Kondisi ini akan berpotensi menjadi perang terbuka dua negara besar di Perairan China Selatan," jelasnya.

Anggota Komisi I DPR RI bidang Pertahanan ini menegaskan untuk tak menganggap remeh perseteruan yang tengah terjadi antara kedua negara adidaya tersebut. Potensi perseteruan ini tampak semakin memanas ketika pesawat perang terbesar China Y-20 dikabarkan mendarat di pulau buatan bernama Fiery Cross Reef. Terlebih, China sejak awal mengklaim Laut China Selatan bahkan tengah membangun pangkalan militer di pulau buatan pada perairan tersebut.

Syarief mengatakan penting bagi Pemerintah Indonesia untuk membangun kekuatan militer. Harapannya, ini dapat memberi rasa aman, daya gertak, serta menguatkan pertahanan Indonesia khususnya di wilayah perbatasan. Ia pun menilai Indonesia mesti mengedepankan diplomasi guna menghindari potensi perang yang mungkin saja terjadi di wilayah perbatasan antara Indonesia dan Laut China Selatan.

"Pemerintah mengedepankan pendekatan diplomasi, sebagaimana yang pernah ditunjukkan pada Pemerintahan SBY yang membangun diplomasi dengan semangat million friends and zero enemy. Akan tetapi, jika memang terpaksa ada perang terbuka, maka Indonesia juga harus memperkuat militernya untuk menjaga keamanan nasional dan melindungi wilayah Indonesia," tutup Syarief.

Simak juga video 'Alasan China Tolak Tim WHO Untuk Teliti Asal-usul Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(fhs/ega)