Pieter Erberveld: Sosok Hero Batavia, Tubuhnya Tercerai Berai Ditarik Kuda

ADVERTISEMENT

Urban Legend

Pieter Erberveld: Sosok Hero Batavia, Tubuhnya Tercerai Berai Ditarik Kuda

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 13:52 WIB
Pieter Erberveld (Danu Damarjati/detikcom)
Ilustrasi. Ukiran nama Pieter Erberveld di prasasti. (Danu Damarjati/detikcom)

Kronologi rencana makar Erberveld x Kartadriya

28 Desember 1721, Raden Kartadriya mengunjungi Erberveld. Saat itu, Erberveld bukan anak muda. Dia adalah pria ompong, rambutnya putih, badannya tinggi besar. Erberveld sedih karena VOC tidak mempekerjakannya lantaran Erberveld dianggap sudah terlalu kaya.

Erberveld dan Kartadriya mendiskusikan rencana membantai orang-orang Eropa, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka mengirimkan surat ke Sultan Banten supaya dibantu dalam aksi itu.

Celakanya, Sultan Banten justru berkirim surat ke Gubernur Jenderal Belanda kala itu. Sultan Banten memberi tahu soal adanya ancaman persekongkolan jahat (konspirasi) yang membahayakan keamanan. Ada salah satu budak yang membocorkan pula rencana Erberveld dan Raden Kartadriya ke pemerintah VOC.

"Tentara-tentara dikirim untuk mengepung rumah Erberveld. Pada larut malam, mereka masuk ke rumah dan mengejutkan Erberveld serta 12 pemimpin lain yang berada di lokasi," tulis William Bradley Horton.

Semua yang tertangkap kemudian dieksekusi dengan cara sadis pada 22 April 1722. Selain 12 pemimpin yang dieksekusi, ada 3 perempuan yang juga dieksekusi mati. Alwi Shahab dalam buku 'Betawi: Queen of the East' menuliskan, ada 24 orang yang dihukum mati.

Hukuman mati dengan ditarik 4 kuda terhadap Francois Ravaillac, 1610. (Public Domain/Franz Hogenberg/Wikimedia Commons)Ilustrasi hukuman mati sejenis seperti yang dialami Pieter Erberveld: Francois Ravaillac ditarik 4 kuda, 1610. (Public Domain/Franz Hogenberg/Wikimedia Commons)

Tangan dan kaki Pieter diikat dengan tali, masing-masing dihubungkan ke seekor kuda yang menghadap empat penjuru. Dengan sekali hentak, keempat kuda itu melesat diikuti terbelahnya tubuh Pieter Erberveld menjadi empat bagian. Lalu, kepala Erberveld dipenggal dan ditancapkan di atas tonggak di gerbang rumahnya.

Metode hukuman mati seperti ini sudah kerap dilakukan di dunia pada saat itu. Metode ngeri seperti ini juga disebut sebagai drawing and quartering (menarik dan membagi empat).

Repro dari lukisan 'Martyrdom of St Hippolyte' karya Dieric Bouts, koleksi St Salvator's Cathedral. (Public Domain via Wikimedia Commons)Ilustrasi hukuman sejenis seperti yang dialami Pieter Erberveld: Repro dari lukisan 'Martyrdom of St Hippolyte' karya Dieric Bouts, koleksi St Salvator's Cathedral. (Public Domain via Wikimedia Commons)

Raden Kartadriya disiksa secara mengerikan. Dikutip dari ensiklopedi Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta, Kartadriya digantung pada tiang salib dan dipereteli dengan tang yang panas. Setelah tewas, mayat Kartadriya diikat dan ditarik oleh dua ekor kuda. Makamnya kini berada di Kebon Jukut, Mangga Dua, Jakarta Barat.

William Bradley Horton menilai cerita yang berkembang pada abad ke-19 mengenai peristiwa pemberontakan Pieter Erberveld kadang juga bercampur imajinasi penulisnya. Ada cerita mengenai asmara antara dua budak, cerita soal perselisihan Erberveld dengan kawan Eropa-nya, dan juga cerita soal guru radikal dalam pemberontakan Erberveld bernama Guru Haji Abas.

Selanjutnya, nasib monumen Pieter Erberveld, dihancurkan Jepang:

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT