Sepi Peminat di Indonesia, Tenun Sidan Nyaris Diakui Milik Malaysia

Yudistira Imandiar - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 12:30 WIB
Kain tenun sidan
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Kapuas Hulu -

Tenun sidan merupakan salah satu kain yang sering dipakai oleh suku dayak Iban di Kalimantan Barat. Meski begitu, kain tenun ini justru lebih banyak diminati warga Negeri Jiran, Malaysia.

Tim detikcom dalam program Tapal Batas, menemui salah seorang perajin kain tenun sidan. Selama lebih dari dua dekade, Susana, menekuni kerajinan tenun khas Iban. Keahlian menenun didapatkannya sejak kecil dari sang ibu.

Susana menjelaskan, suku Iban memiliki beberapa jenis corak tenun. Ada tenun sidan, ikat, dan sungket. Saat ini, Susana hanya fokus membuat kerajinan dari tenun sidan.

Dalam sejarahnya, tenun sidan digunakan untuk pakaian adat pada acara-acara besar, seperti pernikahan. Menurut Susana, tenun ini merupakan warisan leluhur Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

"Kalau kita hanya memperkenalkan (tenun sidan) motif cengkok pakis yang melambangkan kesuburan. Kemudian terakhir saya membuat ciri khas dari Kapuas Hulu ada (gambar) arwananya, ada bentuk ikan di bawahnya," jelas Susana belum lama ini.

Untuk menarik minat berbagai kalangan konsumen, Susana mengemas tenun sidan menjadi produk-produk fesyen dan aksesori, seperti gelang, ikat kepala, peci, dan tas. Dalam membuat kerajinan tersebut, Susana memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di daerah Putussibau dan sekitarnya.

Susana bekerja sama dengan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya untuk menenun lembaran kain tenun. Setelah jadi, kain tersebut dikirimkan kepadanya untuk dibentuk menjadi berbagai produk.

Kain tenun sidanKain tenun sidan Foto: Rachman Haryanto/detikcom

"Saya siapkan bahannya (pembuatan kain tenundan diberikan ke mereka, jadi mereka bebas mengerjakan di rumah masing masing, sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi nggak mengganggu (pekerjaan rumah) mereka. Setelah hasilnya jadi mereka antar ke sini, saya olah (menjadi produk) dan kita jual," terang Susana.

Produk-produk tenun sidan buatan Susana kebanyakan dikirim ke Malaysia. Menurutnya, tenun sidan lebih banyak digunakan oleh keturunan Iban di Malaysia ketimbang di Indonesia, sehingga pesanan terbesar datang dari Negeri Jiran tersebut. Selain itu, karena perajin tenun sidan tinggal di wilayah perbatasan, mereka lebih mudah mengirim hasil kerajinannya ke Malaysia ketimbang menjualnya di dalam negeri.

"Kebetulan pasaran terbesar kita ada lah Malaysia di Kuching dan sekitarnya. Saya juga pernah ikut pameran sampai ke KL (Kuala Lumpur) untuk memperkenalkan tenun sidan," kata Susana.

Karena banyak warganya yang menggunakan tenun sidan, orang-orang Malaysia mulai mengakui tenun sidan sebagai warisan budaya khas setempat. Padahal, tegas Susana, perajin tenun sidan sebagian besar berada di Indonesia.

Kain tenun sidanKain tenun sidan Foto: Rachman Haryanto/detikcom

"Tenun sidan itu hampir diklaim Malaysia karena pemakai terbesar di sana, perajin pun di perbatasan jadi lebih mudah jual ke Malaysia. Pembeli terbesar ada di sana jadi kita nggak bisa mengatakan kepada mereka (pengrajin di Indonesia) tidak boleh jual ke sana, karena pasar terbesar di sana. Karena orang (Malaysia) paling banyak melihat tenun di sana banyak yang mengira ini punya mereka," terang Susana.

"Di sana (Malaysia) ada yang buat tapi tidak beregenerasi seperti kita. Kalau kita di sini, anak-anak SD sudah bisa menenun," imbuh dia.

Agar tenun sidan tak pindah tangan ke negara tetangga, Susana berupaya mengenalkan produknya itu di pasar dalam negeri. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas di Indonesia, ia menjajaki pameran-pameran seperti Inakraf.

Selain itu untuk mengembangkan jaringan pemasarannya, Susana turut memanfaatkan fasilitas permodalan dari Bank BRI. Dia mengungkapkan kredit yang didapatkan dari Bank BRI digunakan untuk memperluas jaringan distribusi dan menambah modal untuk membeli produk tenun dari perajin lokal.

Namun, di masa pandemi Susana menemui hambatan dalam penjualan produknya karena perbatasan Indonesia-Malaysia ditutup dan permintaan di dalam negeri juga menurun. Jika dalam kondisi normal dia bisa mendapat omzet Rp 10-15 juta sebulan, kini penghasilannya merosot tak menentu besarannya.

Dalam kondisi sulit tersebut, ia bersyukur mendapatkan relaksasi kredit dari BRI. Keringanan pembayaran angsuran mengurangi beban keuangan Susana di masa pandemi.

"Ya lumayan membantu karena sekarang sama sekali ndak ada penghasilan ya. Setelah direlaksasi kita bisa bayar setengahnya saja. Bahkan dikatakan kalau kondisi belum normal bisa diperpanjang lagi relaksasinya," jelas Susana.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(prf/ega)