DTKJ Terima 175 Aduan Pelayanan: Terbanyak untuk TransJ, Paling Sedikit MRT

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Selasa, 29 Des 2020 19:28 WIB
Demo buruh di kawasan Istana Negara membuat lalu lintas di area itu ditutup sementara. Penutupan itu membuat bus TransJakarta menumpuk di Halte Hayam Wuruk.
Ilustrasi armada bus TransJakarta di Halte Harmoni. (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menerima 175 data aduan layanan transportasi umum yang ada di Jakarta. Data aduan itu terkumpul secara daring sejak April hingga 28 Desember.

"Jadi selama 1 April 2020 sampai dengan 28 Desember artinya sampai dengan hari kemarin itu, sudah ada 175 data pengaduan dari masyarakat," kata Ketua DTKJ Haris Muhammadun dalam Acara Refleksi 2020 dan Outlook 2021 di gedung Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Jalan Taman Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (29/12/2020).

Haris mengungkapkan TransJakarta berada di urutan tertinggi terkait pengaduan yang banyak disampaikan masyarakat. Kemudian disusul KRL Commuter Line, yang berada di posisi kedua.

"Nah kemudian sasaran atau objek pengaduan itu adalah yang paling tinggi adalah kepada TransJakarta ini mencapai hampir 60 pengaduan, yang paling kecil MRT. Kemudian yang kedua paling besar setelah TransJakarta adalah KRL," ungkapnya.

Haris menjabarkan pihaknya juga menerima 20 aduan terkait bus kota. Sementara untuk MRT, hanya dua aduan.

"MRT kecil, hanya sekitar 2 pengaduan," katanya.

Aduan paling banyak berasal dari media sosial Twitter, yaitu 27 persen. Lalu, disusul aduan melalui Instagram dan grup WhatsApp community masing-masing dengan persentase 13,5 persen.

"Data pengaduan dari masyarakat, jadi pengaduan masyarakat yang kita lakukan tanggapan atau respons dari Twitter itu 27 persen, dari kanal aspirasi Facebook 5,4 persen, dari Instagram itu 13,5 persen. Kemudian dari masukan secara diskusi langsung itu ada yang via telepon ada yang langsung mendatangi kantor DTKJ, itu cukup banyak ada 40,5 persen dan dari grup Whatsapp komunitas itu 13,5 persen," tuturnya.

(whn/dkp)