Ngeri! Cerita Petani Karet di Perbatasan RI-Malaysia Dihadang Macan Dahan

Abu Ubaidillah - detikNews
Rabu, 16 Des 2020 12:10 WIB
Petani karet di Sajingan Besar, Sambas, Kalbar
Foto: Abu Ubaidillah/detikcom
Sambas -

Macan dahan yang memiliki nama ilmiah Neofelis nebulosa merupakan jenis kucing berukuran sedang dengan panjang tubuh mencapai 95 cm. Meski ukurannya tak sebesar macan tutul yang panjangnya bisa mencapai 150 cm, namun macan yang satu ini sangat perlu diwaspadai, terutama bila Anda memasuki kawasan perhutanan di Kalimantan Barat.

Bila tak waspada, hewan karnivora yang satu ini dapat membahayakan diri Anda. Seperti pengalaman yang pernah dialami oleh Petani Karet di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Mus Mulyadi (45). Lokasi kebun karet yang berada di tengah hutan, ancaman dari macan dahan sangat mungkin terjadi.

"Ancaman dari hewan buas ada sih kaya macan dahan, dulu pernah terjadi tapi gimana lagi, harus dihadapi," katanya kepada detikcom belum lama ini.

Mus Mulyadi sedikit memberikan tips saat bertemu dengan macan dahan. Ia mengatakan hanya ada dua pilihan, yakni jika merasa mampu maka dilawan dengan menakutinya, jika tidak mampu maka sebaiknya melarikan diri. Mus sendiri saat itu memutuskan untuk menakutinya menggunakan parang yang biasa ia bawa untuk memanen getah karet.

"Makanya kita selalu bawa (parang) buat persiapan," katanya.

Ia juga mengatakan ancaman dari macan dahan bisa terjadi tanpa diduga, sebab pergerakannya disebut cukup licin. Entah itu pagi, sore, atau malam sekalipun. Menurut Mus, macan dahan bisa bersembunyi di bawah tanah, di balik rerumputan, atau mengintai dari atas pohon yang besar. Warna bulunya yang kecoklatan seakan menyatu dengan alam membuat macan dahan sulit diidentifikasi keberadaannya.

Tak hanya ketika berladang, dahulu Mus juga mengaku kerap menjumpai macan dahan saat menyusuri sungai untuk belanja barang kebutuhan pokok. Selain dari macan dahan, Mus juga mengaku pernah dijumpai babi hutan yang juga berbahaya.

Namun seiring semakin banyaknya lahan hutan yang dijadikan kebun karet sejak 2005, dan dibangunnya akses jalan semen menuju hutan pada tahun 2015, maka makin banyak petani yang membawa motor menuju kebun. Macan dahan dan babi hutan kini diakui sudah jarang terlihat.

Sementara soal penghasilannya dari kebun karet, di masa pandemi Mus mengaku kesulitan menjual hasil panen karena permintaan dari tengkulak menurun. Ini seiring dengan ekspor yang belum bisa dilakukan di PLBN Aruk. Belum lagi kondisi cuaca hujan membuat getah karet yang ia panen bercampur dengan air sehingga tidak bisa dijual.

Petani karet di Sajingan Besar, Sambas, KalbarPetani karet di Sajingan Besar, Sambas, Kalbar Foto: Abu Ubaidillah/detikcom

Untuk mengatasi penurunan pendapatan ini, Mus memilih mengajukan KUR ke Bank BRI. Ia mendapat kucuran KUR senilai Rp 20 juta yang ia gunakan untuk membuka warung sembako di rumahnya. Warung tersebut dikelola oleh sang istri.

"Saya pun nggak nyangka saya diterima (pengajuan KUR-nya), seminggu kemudian datanglah tim survei, saya bukan berharap sebenarnya, saya pinjam dulu itu tutupnya Border (Aruk) itu pas pandemi, jadi usaha di Border pendapatan saya jadi nggak ada, jadi saya pinjam untuk dagang, Rp 20 juta, jangka waktunya 3 tahun gara-gara Corona itulah," katanya.

Ia bersyukur mendapat kucuran dana KUR. Ia dan istrinya bisa berjualan yang keuntungannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Sekarang nabung di BRI, saya sangat berterima kasih kepada Bank BRI sangat memudahkan," kata Mus.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian menyelamatkan masyarakat yang terdampak pandemi, salah satunya dengan terus mengucurkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR).

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(prf/ega)