Nama Setya Novanto Muncul di Sidang Kasus Red Notice Djoko Tjandra

Zunita Putri - detikNews
Senin, 14 Des 2020 22:12 WIB
Djoko Tjandra kembali menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Irjen Pol Napoleon Bonaparte dan Brigjen Pol Prasetijo Utomo hadir sebagai saksi.
Djoko Tjandra (Ari Saputra/detikcom)

Usai persidangan, jaksa penuntut umum menjelaskan maksud soal pertanyaan hakim yang bertanya tentang Setya Novanto. Apa kata jaksa?

"Memang tadi ada keterangan terkait dengan Setya Novanto, ini kan keterangan dari Joko Soegiarto Tjandra, tapi intinya tadi disampaikan pada saat si Joko Soegiarto Tjandra, sebenarnya fokusnya menghubungi pak Tommy sumardi. Apa kaitan dengan Setya Novanto? Memang yang dipahami oleh saksi Joko Soegiarto Tjandra adalah termasuk di antaranya Tommy Sumardi bisa berkomunikasi atau berkawan dengan pak Setya Novanto," kata jaksa penuntut umum, Zulkipli usai sidang.

Terkait dengan nama Novanto di sidang ini, Zulkipli mengatakan akan mempertimbangkan Novanto dihadirkan di sidang ini. Namun, kata dia, jaksa perlu memastikan apakah Novanto berkaitan atau tidak dengan kasus red notice ini.

"Nanti kita pertimbangkan lagi, pemanggilan saksi kan terkait dengan relevansi pembuktian, apa sih relevansi pembuktian yang kira-kira menjadi prioritas penuntut umum, nah itu yang akan kita lakukan. Sejauh mana nanti pengetahuan ketika misalnya ada nama Setya Novanyo yang muncul, kita akan berikan penilaian dulu, apakah kemudian penting, atau punya relevansi untuk pembuktian kita akan hadirkan," kata Zulkipli.

Duduk sebagai terdakwa adalah Brigjen Prasetijo. Dia didakwa menerima suap dari Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Prasetijo diduga telah membantu upaya penghapusan nama Djoko Tjandra dalam red notice Interpol.

Perbuatan Prasetijo disebut jaksa dilakukan bersama-sama dengan Irjen Napoleon Bonaparte yang kala itu menjabat Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri.

Napoleon disebut jaksa menerima suap dari Djoko Tjandra sebesar SGD 200 ribu dan USD 270 ribu. Sedangkan Prasetijo didakwa menerima USD 150 ribu yang dikurskan ke rupiah menjadi sekitar Rp 2,1 miliar.

Halaman

(zap/lir)