Bos Sido Muncul: Kalau Bisnis Sukses, Lingkungan Juga Harus Sukses

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 14 Des 2020 21:24 WIB
Irwan Hidayat
Foto: Alfi Kholisdinuka
Jakarta -

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali mendapatkan Penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper) dari Kementerian LHK. Berbeda dengan sebelumnya yang mendapat kategori Hijau, kali ini Sido Muncul mendapat Proper Emas untuk pertama kalinya.

Menurut Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat, pihaknya memang sudah berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan dalam setiap produksinya. Hal itu dibuktikan dengan melakukan efisiensi energi listrik dari chiller conventional ke chiller absorber hingga penurunan gas emisi buang.

"Kemudian, efisiensi air rekayasa teknologi kita menciptakan alat-alat untuk herbal steam chamber di masa COVID-19 ini, terus penurunan beban cemaran (penerapan penggunaan high speed dalam proses produksi, serta terakhir penurunan limbah non B3 dengan pemakaian mesin grinding," ujar Irwan ditemui di Kantor Sido Muncul, Jakarta, Senin (14/12/2020).

Lebih lanjut, Irwan menuturkan dengan diraihnya Proper Emas ini Sido Muncul akan terus berupaya tetap menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan pabrik di Semarang, Jawa Tengah. Salah satunya dengan menumbuhkan kesadaran untuk melindungi lingkungan sekitar.

"Bagi Sido Muncul, menjaga bisnis itu sama halnya dengan menjaga lingkungan. Kalau bisnisnya sukses, maka lingkungan juga harus sukses. Sebuah perusahan dapat dikatakan sukses, apabila ia bisa sukses menjaga lingkungan sekitar," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan penghargaan Proper merupakan penghargaan bagi dunia usaha yang menunjukkan kinerja luar biasa dalam pengelolaan lingkungan hidup dan kehadirannya bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

"Untuk tahun 2020 ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui penilaian PROPER menambahkan kriteria sensitivitas dan daya tanggap perusahaan terhadap kebencanaan dalam penilaian aspek pemberdayaan masyarakat," ucapnya.

"Kriteria ini pada dasarnya meminta komitmen pimpinan perusahaan untuk memberikan perlindungan kepada karyawannya sehingga tidak melakukan pemutusan hubungan kerja. Dunia usaha diharapkan mengintegrasikan analisa resiko terhadap bencana, kerentanan sosial dan lingkungan untuk menyusun strategi keberlanjutan bisnisnya," pungkasnya.

(mul/ega)