OTT Dianggap Operasi Zebra Disebut Novel Baswedan Pendapat Salah, Kenapa?

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 19:42 WIB
Penyidik KPK Novel Baswedan memenuhi panggilan Komisi Kejaksaan (Kadek Melda Luxiana/detikcom)
Penyidik KPK Novel Baswedan. (Kadek Melda Luxiana/detikcom)
Jakarta -

Operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK menjelang akhir tahun cukup masif meski dianggap pelemahan KPK masih terjadi. Penyidik senior KPK Novel Baswedan pun ikut angkat bicara.

Dalam diskusi virtual, Novel Baswedan berbicara mengenai OTT yang diibaratkan operasi zebra oleh aparat kepolisian. Pendapat itu sebelumnya pernah disampaikan Ketua KPK Firli Bahuri.

"OTT yang dibilang seperti operasi zebra, saya tidak tahu itu pendapat Ketua KPK atau bukan, tapi kalau ada pendapat begitu, saya tidak sepakat dengan pendapat itu, karena itu tentunya salah. Kita bisa lihat, operasi tangkap tangan justru menjadi jalan mengungkap fakta korupsi yang besar," ujar Novel dalam diskusi virtual itu, Kamis (10/12/2020).

"Sering kali orang melihat, oh itu jumlahnya kecil yang di-OTT. Proses korupsi, perbuatan korupsi yang dilakukan itu kan tidak sekaligus. Dia ada berproses, ketika dilakukan operasi tangkap tangan, itu semua masih hangat semua-lah. Jadi alat buktinya masih real time, masih ada semua, sehingga ketika OTT biasanya merupakan jalan untuk ungkap kasus yang besar," imbuhnya.

Menurutnya, OTT merupakan jalan untuk mengungkap kasus yang besar. Novel menyindir bahwa OTT yang diibaratkan operasi zebra adalah seperti pembuatan KTP di kelurahan atau pungli-pungli kecil yang dilakukan oleh oknum Polisi Lalu Lintas.

"Jadi kalau dimaksud OTT seperti operasi zebra, barangkali yang dimaksud adalah OTT yang terkait pelayanan publik. Contohnya pembuatan KTP di kelurahan, kecamatan. Nah, itu bisa jadi operasi zebra atau pungli-pungli kecil-kecil yang dilakukan oleh Polisi Lalu Lintas, itu bisa jadi seperti operasi zebra," katanya.

"Tapi kalau OTT sebagaimana yang dilaksanakan selama ini justru itu jalan untuk ungkap korupsi yang terbaik. Karena ketika dijalankan itu kita bisa mengembangkan bahwa praktik korupsi yang besarnya akan tergambar dari bukti-bukti yang diperoleh saat OTT," sambungnya.

Sebelumnya, pada Selasa, 10 November 2020, Ketua KPK Firli Bahuri menjadi pembicara dalam webinar nasional Pilkada Berintegritas 2020 yang disiarkan kanal YouTube KPK. Webinar itu diikuti para calon kepala daerah yang akan berlaga pada Pilkada Serentak 2020.

Di hadapan para calon kepala daerah itu Firli menilai menangkap koruptor tak akan menghentikan orang untuk tidak melakukan korupsi. Bahkan, menurutnya, tak akan bisa memberantas korupsi.

"Kami tidak ingin hanya melakukan penangkapan karena penangkapan itu tidak pernah menghentikan orang untuk melakukan korupsi atau tidak pernah memberantas atau menghentikan orang supaya tidak korupsi," ujar Firli.

Firli menyebut OTT itu seperti operasi zebra yang digelar aparat kepolisian. Apa maksudnya?

"Kalau ibaratkan operasi zebra yang dilaksanakan kepolisian, Pak, misal anggap saja di depan ini ada Jalan Raya Diponegoro, operasi polisi, apakah akan menghentikan orang melanggar? Tidak," kata Firli.

"Dia akan menghindar dari Jalan Diponegoro, muter dulu dia supaya tidak tertangkap. Itu juga terjadi dalam korupsi," imbuhnya.

Lantas bagaimana kerja KPK saat ini untuk pemberantasan korupsi?

Menurut Firli, ada tiga pendekatan yang dilakukan KPK saat ini, yaitu pendidikan, pencegahan, dan penindakan. Prioritas Firli sesuai dengan urutan tersebut.

"Kita melakukan pendekatan pendidikan masyarakat supaya orang timbul perubahan perilaku sikap supaya tidak ingin melakukan korupsi, ini Pak. Pendekatan pertama kita yang kita sebut dengan education approach, kita buat ini, Pak, kita sentuh individunya, kita sentuh alam pikirnya, kita sentuh hatinya supaya tidak ingin melakukan korupsi," papar Firli.

"Begitu juga supaya orang tidak ingin menyerahkan uang untuk korupsi, kalau sama-sama tidak ingin, kan nggak ada korupsi," sambung dia.

(fas/dhn)