Korupsi Proyek Fiktif, 5 Eks Pejabat Waskita Didakwa Rugikan Negara Rp 202 M

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 17:26 WIB
Korupsi Proyek Fiktif, 5 Eks Pejabat Waskita Didakwa Rugikan Negara Rp 202 M
Korupsi proyek fiktif, 5 eks pejabat Waskita Didakwa rugikan negara Rp 202 miliar. (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Lima mantan pejabat PT Waskita Karya (Persero) didakwa jaksa KPK dengan memperkaya diri terkait kasus korupsi proyek infrastruktur fiktif. Perbuatan mereka disebut jaksa KPK membuat negara merugi Rp 202 miliar.

Lima pejabat itu adalah Desi Arryani selaku mantan Kepala Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Fathor Rachman selaku mantan Kepala Proyek Pembangunan Kanal Timur-Paket 22 PT Waskita Karya (Persero), Jarot Subana selaku mantan Kepala Bagian Pengendalian pada Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Fakih Usman selaku mantan Kepala Proyek dan Kepala Bagian Pengendalian pada Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya (Persero) Tbk, serta Yuly Ariandi Siregar selaku selaku Kepala Bagian Keuangan Divisi Sipil III PT Waskita Karya (Persero).

"Terdakwa telah melakukan turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, secara melawan hukum, melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain serta memperkaya korporasi yang dapat merugikan keuangan negara sebesar Rp 202.296.416.008," kata jaksa KPK Ronald Worotikan saat membacakan dakwaan di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (10/12/2020).

Adapun perbuatan memperkaya diri jumlahnya sebagai berikut:

1. Desi Arryani sebesar Rp 3.415.000.000
2. Fathor Rachman Rp 3.670.000.000
3. Jarot Subana Rp 7.124.239.000
4. Fakih Usman Rp 8.878.733.720
5. Yuly Ariandi Siregar Rp 47.386.931.587

Serta memperkaya orang lain yakni:

- Haris Gunawan Rp 1.525.885.350
- Dono Parwoto Rp 1.365.000.000
- Imam Bukori Rp 6.181.214.435
- Wagimin Rp 20.515.040.661
- Yahya Mauliddin Rp 150.000.000

Serta memperkaya korporasi yaitu:
- PT Safa Sejahtera Abadi sebesar Rp 8.162.529.912
- CV Dwiyasa Tri Mandiri Rp 3.830.665.459
- PT Mer Engineering Rp 5.794.840.300
- PT Aryana Sejahtera Rp 1.700.507.444.

Kasus berawal pada Desember 2009 PT Waskita Karya menggelar rapat moving-in untuk membicarakan dana proyek PT Waskita Karya. Rapat itu dipimpin oleh terdakwa Desi Arryani. Rapat itu dihadiri oleh terdakwa Jarot Subana dan terdakwa Fakih Usman, kepala proyek normalisasi Kali Bekasi Hilir Haris Gunawan, serta Dono Parwoto sebagai kepala proyek pekerjaan tanah tahap II Bandara Medan Baru.

Dalam pertemuan itu terjadi kesepakatan pengeluaran dana nonbudgeter dengan cara membuat kontrak pekerjaan subkontraktor fiktif. Salah satu caranya dengan peminjaman bendera perusahaan subkontraktor milik pejabat PT Waskita Karya.

"Dalam pertemuan itu disepakati strategi untuk menghimpun dana nonbudgeter dengan cara membuat kontrak pekerjaan-pekerjaan subkontraktor fiktif yang melekat pada proyek-proyek utama yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya (Persero), yang nantinya pembayaran atas pekerjaan-pekerjaan kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor fiktif tersebut dikembalikan lagi (cash back) kepada Divisi Sipil/Divisi III/Divisi II PT Waskita Karya (Persero)," kata jaksa.

"Perusahaan-perusahaan subkontraktor fiktif yang ditunjuk diberi fee 'peminjaman bendera' sebesar 1,5-2,5 persen dari nilai kontrak. Untuk memudahkan proses administrasi khususnya pengembalian kembali (cash back) uang yang diterima oleh perusahaan-perusahaan tersebut kepada Divisi Sipil, Terdakwa I DESI ARRYANI mengusulkan agar Divisi Sipil menggunakan atau 'meminjam bendera' perusahaan subkontraktor milik pejabat/pegawai PT Waskita Karya," tambahnya.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2