Siapa Bilang Nggak Bisa? Ini Cara Tanam Kelapa Sawit di Pulau

Angga Laraspati - detikNews
Senin, 07 Des 2020 12:39 WIB
Nasabah BRI
Foto: Pradita Utama
Rupat -

Komoditas kelapa sawit memang menjadi ladang emas di Indonesia. Ratusan ribu hektare lahan sawit terlihat di pulau besar seperti Sumatera dan Kalimantan. Tapi pernahkah Anda berpikir di pulau juga bisa menjadi tempat tumbuhnya kelapa sawit?

Cobalah datang ke Pulau Rupat yang berada di wilayah pemerintahan Kabupaten Bengkalis, Riau. Letaknya pun tidak jauh dari Kota Dumai dan juga Port Dixon di Malaysia. detikcom pun berkesempatan mendatangi pulau yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka tersebut dalam ekspedisi Tapal Batas.

Jajaran pohon sawit langsung terlihat berjejer di pulau yang dikelilingi laut ini. Sawin (58), seorang petani sawit yang memiliki 30 hektare lahan di Pulau Rupat pun membagi cara penanaman sawit di pulau.

Dia mengatakan memang ada beberapa kendala yaitu tanah yang kerap ditemukan berbijih-bijih (tanah yang kering). Seperti yang terjadi pada lahan seluas 6 hektare yang ia miliki. Hal ini membuat daun kelapa sawit menjadi kering.

"Jadi sebagian buah itu juga kurang, bahkan tidak berbuah. Padahal tanah yang lainnya itu aman (masih subur). Itu yang sampai sekarang masih belum bisa kita atasi," imbuh Sawin kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Ia pun melanjutkan kendala yang terjadi pada sebagian lahan miliknya tersebut terjadi karena air yang ada di dalam tanah langsung mengalir ke laut sehingga proses perairan terganggu. Ia pun mengandalkan hujan untuk menanam sawit yang ia tanam dapat tumbuh besar dan berbuah.

"Ya, hasilnya ya tidak berbuah. Mungkin karena kondisi geografis yang dikelilingi laut sehingga pengairannya masih sulit dan kita hanya mengandalkan hujan (untuk menumbuhkan sawit)," imbuh Sawin.

Lebih lanjut, Sawin mengatakan sebenarnya komoditas sawit di Pulau Rupat sangat mudah untuk digeluti karena kesuburan tanahnya. Selain membutuhkan air, ia menuturkan pohon sawit juga membutuhkan sinar matahari yang cukup sehingga hasilnya akan lebih baik.

"Justru ketika sawit sudah tumbuh, kemarau pun tidak masalah. Kalau hujan yang berkepanjangan biasanya membuat daunnya itu kuning, kalau lagi musim panas daunnya bisa hijau. Lagian kalau di Rupat ini musim panas tidak pernah panjang paling 1-2 bulan, jadi iklimnya (musim hujan dan panas) cocok untuk menanam sawit. Kalau memupuk setahun sekali juga tidak apa-apa agar buahnya bisa lebih banyak," jelasnya.

Lebih lanjut, Sawin menuturkan yang dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin menanam sawit adalah kesabaran yang tinggi. Karena proses penanamannya mulai dari bunga hingga berbuah membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Ia pun mencontohkan dari lahan 10 hektare miliknya yang harus ia tunggu selama 4 tahun untuk menunggu sawit yang ia miliki mengeluarkan hasil.

"Awal kami jual cuma 70 kg dari seluas 10 hektare tersebut, tapi besoknya sudah 200 kg, besoknya lagi 500 kg, meningkat terus hingga pernah mencapai 18 ton untuk 10 hektar," pungkasnya.

Kini Sawin pun sudah merasakan kesuksesan menjadi petani sawit di Pulau Rupat berkat bantuan KUR dari BRI yang ia pinjam pada tahun 2015. Ia pun mengatakan dengan adanya bantuan KUR dari Bank BRI usaha yang ia tekuni sejak lama ini semakin maju.

"Dengan adanya bantuan pinjaman dari BRI jadi sudah lumayan gitu untuk kami beli mobil untuk operasional. Dulu awalnya saya hanya punya 10 hektare, setelah ada pinjaman dari BRI untuk memperluas lahan jadi bisa memiliki total kira-kira 30 hektare," pungkasnya.

Ikuti terus jelajah Tapal Batas detikcom bersama BRI di tapalbatas.detik.com.

(mul/ega)