Round-Up

Trauma Warga Sebab Rumah Dibakar Ali Kalora

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 07:33 WIB
Selain membunuh satu keluarga di Sigi, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora juga melakukan pembakaran rumah. Begini kondisi rumah yang dibakar kelompok MIT.
Serangan kelompok Ali Kalora terhadap permukiman warga di Sigi (Foto: ANTARA FOTO/Humas Polres Sigi)
Jakarta -

Ulah keji kelompok Muhahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora membekas diingatan warga Sigi, Sulawesi Tengah. Akibat tindakan sadis Ali Kalora cs sejumlah korban sampai enggan kembali ke rumah.

Ali Kalora cs diduga menjadi dalang pembunuhan sadis sekeluarga, yang berjumlah 4 orang, di Dusun Lewano, Desa Lembantongoa. Astri Kandi, salah seorang anggota keluarga yang dibunuh mengalami trauma berat.

"Saya tidak mau kembali ke situ meski pemerintah membangun rumah saya yang ludes diduga dibakar oleh kelompok MIT," kata Astri di Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (3/12/2020).

Tak cuma Astri yang enggan kembali ke rumahnya. Warga lain, baik yang rumahnya menjadi sasaran Ali Kalora cs atau yang tidak, juga enggan kembali.

Mereka meminta pemerintah membangunkan rumah, tetapi tidak lagi di sekitar lokasi pembunuhan sadis. Ya, para warga setempat juga mengalami trauma berat.

"Mereka menjadi korban dalam serangan teroris yang kini tengah diburu oleh pasukan gabungan TNI/Polri," ucap Astri.

Dusun Lewono merupakan lokasi transmigrasi yang berada jauh dari lokasi transmigrasi (SP-1) Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Lokasi itu berada di puncak gunung dan merupakan transmigrasi lokal.

"Kalau transmigrasi Dusun Tokelemo adalah transmigrasi umum dari Jawa," ungkap Astri.

Lokasi transmigrasi di Dusun Lewono, kata Astri Kandi, selain berada di atas gunung, juga terbilang masih kurang penduduknya. Kini, dia bersama tiga anaknya yang masih kecil terpaksa menumpang di rumah keluarga di Desa Lembantongoa.

Kepala Desa Lembantongoa Deki Basalulu membenarkan kebanyakan warga transmigrasi di Dusun Lewono, wilayah yang diserang oleh kelompok MIT dan menewaskan empat warga transmigrasi lokal tersebut enggan kembali karena khawatir akan keselamatan jiwa mereka.

"Mereka tidak mau kembali lagi ke lokasi itu," kata Deki Basalulu.

Selama beberapa hari terakhir ini aparat gabungan TNI/Polri sedang memburu para teroris. Guna memberikan rasa aman bagi masyarakat Desa Lembantongoa telah dibangun empat titik pos penjagaan di wilayah tersebut.

Pemerintah desa dan masyarakat Desa Lembantongoa sangat berharap TNI/Polri dalam jangka waktu tidak terlalu lama bisa menangkap semua teroris MIT Poso. Oleh karena itu, semua warga diimbau agar terus berdoa supaya aparat secepatnya dapat menumpas habis para teroris.

Bagaimana perkembangan pengejaran kelompok Ali Kalora cs? Simak di halaman berikutnya.

Pengejaran Ali Kalora cs bukan tanpa kendala. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengungkapkan sulitnya memburu mereka.

"Saat ini tinggal 11 orang ini (kelompok Ali Kalora). Kalau dikatakan kecolongan memang sulit juga. Mungkin bukan kecolongan, tetapi memang wilayah operasinya mobilitas kelompok Ali Ahmad alias Ali Kalora saat ini sejak ditinggal Santoso itu dapat kita bayangkan kawasan pegunungan yang menyambungkan 3 kabupaten, Poso, Parigi Moutong dan Sigi," ungkap Boy dalam acara D'Rooftalk yang disiarkan secara langsung di detikcom, Rabu (2/12).

"Ini adalah pegunungan-pegunungan jadi mereka mobile bisa ke selatan, utara, barat. Mereka mendiami hutan yang sangat luas. Tentunya untuk menjangkau ke seluruh wilayah itu tindaklah mudah jadi ini sesuatu kerja panjang," imbuhnya.

Tak hanya itu. Pengumpulan informasi terkait Ali Kalora cs cukup sulit. Hal itu disebabkan di hutan tak ada sinyal telepon seluler. Terlebih, masyarakat sekitar pun enggan memberi tahu informasi terkait kelompok Ali Kalora ini.

"Di kawasan itu sinyal internet belum masuk. Kalau mereka menggunakan seluler android akan mudah dilacak keberadaannya. Akan tetapi untuk kumpulkan informasi keberadaan mereka ini tidak mudah, di tengah-tengah sosial suport kepada aparat tidak begitu menggembirakan, karena mereka umum khawatir, takut apabila memberi informasi kepada petugas karena mereka bisa jadi sasaran," ungkap Boy.

Sepanjang 2019-2020 ini tim gabungan TNI/Polri telah menangkap kurang-lebih 12 warga sekitar yang diduga membantu kelompok Ali Kalora. Para warga sekitar ini berperan sebagai penyuplai logistik ke kelompok Ali Kalora.

"Kalau dilihat progres yang berjalan ini menunjukkan hasil operasi ini sudah berhasil melumpuhkan dan menyeret ke pengadilan orang-orang yang terlibat langsung termasuk di antaranya warga setempat. Awalannya berperan penyuplai logistik dari 2019 dan 2020 ada sekitar 12 orang, mereka menjalankan peran yang mensuplai logistik telah ditangkap dan diadili," sebut Boy.

(zak/zak)