BNPT Ungkap Faktor Geografis-Sinyal Internet Jadi Kendala Buru Ali Kalora cs

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 03 Des 2020 00:01 WIB
Kepala BNPT Boy Rafli Amar
Kepala BNPT Boy Rafli Amar (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengungkapkan sulitnya memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Komjen Boy menjelaskan hal itu disebabkan kelompok Ali Kalora cs bersembunyi di hutan belantara yang menghubungkan 3 kabupaten.

"Saat ini tinggal 11 orang ini kalau dikatakan kecolongan memang sulit juga, mungkin bukan kecolongan tetapi memang wilayah operasinya mobilitas kelompok Ali Ahmad alias Ali Kalora saat ini sejak ditinggal Santoso itu dapat kita bayangkan kawasan pegunungan yang menyambungkan 3 kabupaten, Poso, Parigi Moutong dan Sigi. Ini adalah pegunungan-pegunungan jadi mereka mobile bisa ke selatan, utara, barat. Mereka mendiami hutan yang sangat luas. Tentunya untuk menjangkau ke seluruh wilayah itu tindaklah mudah jadi ini sesuatu kerja panjang," ujar Boy dalam acara D'Rooftalk yang disiarkan secara langsung di detikcom, Rabu (2/12/2020).

Dalam acara itu, hadir anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil dan pengamat terorisme Asia Tenggara Sidney Jones. Acara ini dipandu oleh Alfito Deannova.

Selain itu, Boy menyebut pengumpulan informasi terkait Ali Kalora cs cukup sulit. Hal itu disebabkan di hutan tak ada sinyal telepon seluler. Tak hanya itu, menurut Boy, masyarakat sekitar enggan memberi tahu informasi terkait kelompok Ali Kalora ini.

"Di kawasan itu sinyal internet belum masuk. Kalau mereka menggunakan seluler android akan mudah dilacak keberadaannya. Akan tetapi untuk kumpulkan informasi keberadaan mereka ini tidak mudah, di tengah-tengah sosial suport kepada aparat tidak begitu menggembirakan, karena mereka umum khawatir, takut apabila memberi informasi kepada petugas karena mereka bisa jadi sasaran," ungkap Boy.

Sebab, Boy mengungkapkan, sepanjang 2019-2020, tim telah menangkap kurang-lebih 12 warga sekitar yang diduga membantu kelompok Ali Kalora tersebut. Boy menyebut warga sekitar ini berperan sebagai penyuplai logistik ke kelompok Ali Kalora.

"Kalau dilihat progres yang berjalan ini menunjukkan hasil operasi ini sudah berhasil melumpuhkan dan menyeret ke pengadilan orang-orang yang terlibat langsung termasuk di antaranya warga setempat. Awalannya berperan penyuplai logistik dari 2019 dan 2020 ada sekitar 12 orang, mereka menjalankan peran yang mensuplai logistik telah ditangkap dan diadili," kata Boy.

(ibh/dkp)