Ini Pentingnya Riset dalam Menulis Buku Nonfiksi untuk Anak

Content Promotion - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 19:10 WIB
provisi education
Foto: istimewa
Jakarta -

Buku naratif nonfiksi penting untuk anak karena menyajikan fakta atau peristiwa nyata dengan cara yang mengedukasi, menghibur, dan menarik sehingga mampu menambah pengetahuan dan memperluas kosakata anak.

Room to Read bersama ProVisi menggelar webinar Writing Children Storybooks: How to Create Engaging Narrative Non-Fiction dengan mengundang dua penulis buku naratif nonfiksi, Nindia Nurmayasari dan Ratna Kusuma Halim.

Keduanya berbagi informasi pembuatan buku naratif nonfiksi hasil dari keterlibatan mereka dalam proyek Room to Read/ProVisi Education Fase III. Maya, sapaan akrab Nindia Nurmayasari kini sedang mengikuti Workshop Global Room to Read bersama para penulis dari Vietnam, Nepal, dan Tanzania.

Proyek penulisan naratif nonfiksi ini mengangkat tema perubahan iklim dan dimentori oleh penulis dan editor buku anak, Laura Atkins. Menurut Mya, riset merupakan tahapan paling penting dan menantang sekaligus menjadi kunci dalam menulis buku naratif nonfiksi.

Dalam Workshop Global, penulis buku nonfiksi Perubahan Iklim ini didorong untuk menyajikan cerita yang orisinal, memiliki nilai lokal yang kental, serta sesuai dengan kondisi Indonesia. Ia membaca berbagai referensi dan menonton berbagai video serta film dokumenter untuk memastikan informasi yang tepat dan kaya.

"Tantangan berikutnya adalah bagaimana menyederhanakan informasi dan konsep cerita sehingga mudah diterima oleh anak. Karena kita tidak mungkin menyajikan semua informasi ke dalam buku," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Selasa (1/12/2020).

Penulis buku 'Sama atau Berbeda?', Ratna Kusuma Halim juga setuju dengan pentingnya riset. Menurut penulis buku yang berkisah tentang proses metamorfosis ngengat dan kupu-kupu sembari menyajikan persamaan dan perbedaan keduanya, baik penulis maupun ilustrator buku harus melakukan riset mendalam saat menyusun buku.

Tujuannya ialah untuk memahami fisik dan kehidupan masing-masing hewan. Melalui buku ini pula, anak-anak dapat belajar tentang proses perkembangan hewan dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Ratna juga berbagi cerita di balik layar proses panjang penentuan judul buku yang memnbutuhkan peritmbangan panjang.

"Kami tidak ingin judul yang terlalu sulit untuk anak-anak atau judul layaknya buku pelajaran. Kami mencari judul yang sederhana, namun tetap menarik dan mendorong rasa ingin tahu," ungkap Ratna.

Sementara itu Koordinator Program Pengembangan Perpustakaan, ProVisi Education, Sabrina Esther mengungkapkan buku naratif nonfiksi membantu mendeskripsikan, menjelaskan, dan mengajarkan tentang dunia nyata tempat mereka tinggal pada anak. Oleh karena itu buku naratif nonfiksi sama pentingnya seperti buku cerita fiksi.

"Selain mengandung fakta yang sudah dikaji dengan baik sehingga memperluas cakrawala, buku naratif nonfiksi juga harus menghibur, tidak membosankan, dan disertai dengan gambar yang menarik. Sehingga, selain mendapatkan informasi, anak-anak akan senang saat membacanya," ungkap Sabrina.

Sebagai informasi, webinar Writing Children Storybooks: How to Create Engaging Narrative Non-Fiction' merupakan rangkaian pelatihan yang diselenggarakan oleh Room to Read dan ProVisi Education untuk para kreator buku anak Indonesia, baik penulis maupun illustrator.

Buku 'Sama atau Berbeda?' yang ditulis RAtna Halim bisa dibaca secara gratis di www.literacycloud.org. Sedangkan buku Perubahan Iklim yang ditulis Nindia Nurmayasari akan segera dapat dinikmati di platform digital yang sama.

(ads/ads)