Cerita Keluarga Korban Pembunuhan MIT di Sigi Lari ke Hutan Selamatkan Diri

Mohammad Qadri - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 13:19 WIB
ilustrasi pembunuhan
Ilustrasi (Dok. detikcom)
Sigi -

Keluarga korban pembunuhan sadis oleh kelompok Ali Kalora cs di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), menceritakan detik-detik dia melarikan diri ke hutan setelah melihat ayah dan suaminya dibantai dengan sadis. Dia adalah anak dari korban bernama Yasa.

Yasa dan menantunya dibantai secara sadis oleh kelompok Ali Kalora cs di Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng, pada Jumat (27/11/2020) sekitar pukul 08.00 Wita lalu. Putri dari Yasa, yang namanya kemudian disamarkan dengan sebutan Bunga, mengungkap detik-detik dia melarikan diri.

"Kami lari dengan anakku, mamaku itu sempat saya lihat, pas mamaku pergi (ke tempat ayah dibantai), saya mau tarik (supaya tidak pergi) tidak bisa, saya melihat mereka sudah menarik mama saya. Akhirnya saya sama adik saya sama anak saya langsung lari, di mana jalan terserah kita saja," ujar Bunga dalam video keterangannya yang diterima detikcom, Senin (30/11).

Menurut Bunga, sesaat setelah dia menyaksikan ayah dan suaminya dibantai secara sadis dia langsung membawa anak-anaknya dan adik-adiknya melarikan diri. Namun ibunya tidak sempat ikut bersamanya, sebab sudah ditarik duluan oleh kelompok Ali Kalora cs.

Bunga bersama saudaranya melarikan diri ke hutan dengan panik, dia menggendong anaknya, sementara saudaranya yang lain ikut menggendong adiknya yang masih kecil.

"Digendong lari ke hutan, bukan digendong sarung, cuma dipikul begini," kata Bunga sembari mencontohkan dia dan saudaranya saat itu yang menggendong anak kecil.

"Saya punya adik yang terakhir itu masih anak kecil belum sampai umur 1 tahun, dibawa lari ke hutan sampai kami di jembatan hitam, selamat sudah," paparnya.

Bunga sempat bertemu warga di tengah pelariannya dan meminta warga ikut kabur, simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saat di tengah hutan melarikan diri, Bunga sempat bertemu dengan beberapa warga yang hendak pergi berkebun. Bunga dengan panik mengingatkan para petani tersebut untuk ikut bersamanya melarikan diri karena ada anggota teroris yang hendak membantai mereka.

Bunga juga meyakinkan mereka jika ayah dan suaminya telah menjadi korban pembunuhan sadis itu. Sejumlah petani itu kemudian percaya dan ikut melarikan diri ke hutan bersama Bunga.

"Dari situ kami ke sana itu ikut arus air. Sampai ketemu ada air pancuran, air terjun, kami lihat jalan ke kiri-kanan tidak ada, sampai berpikir; 'sudah didapat kami nanti ini sama teroris'," tuturnya.

Di tengah kebingungan itu, Bunga dan sejumlah warga itu akhirnya nekat turun ke salah satu jurang dekat air terjun itu.

"Saya punya anak itu saya kasih turun saya kasih selamat satu persatu dari jurang," imbuhnya.

Setelah berjalan sekitar 3 jam lamanya, pada sekitar pukul 12.00 Wita, Bunga akhirnya menemukan persawahan dan jalanan hingga akhirnya dia selamat dari pembunuhan. Sementara ibunya, yang sempat ditahan teroris, tidak dibunuh namun diolesi darah di bajunya.

(nvl/idh)