Akademisi Migas Dituntut Adaptif dengan Teknologi Energi Terkini

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Minggu, 29 Nov 2020 22:46 WIB
Pengembangan Kilang Minyak Balikpapan terus dilakukan. Dengan adanya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), kapasitas produksi anak anak 38%.
Foto: Suhandi Ridho
Jakarta -

Di era disruptif, para akademisi di bidang migas dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi energi dan kebutuhan zaman. Bahkan lulusan teknik perminyakan tidak harus berkontribusi di sektor migas saja.

Demikian garis besar dari acara sharing knowledge virtual Ikatan Alumni Teknik Perminyakan Trisakti (IAPT). Dengan didukung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), acara ini digelar secara daring pada Sabtu (28/11) lalu.

Acara tersebut membawa harapan baru bagi mahasiswa teknik perminyakan, terutama lulusan tahun 2020 serta mahasiswa tingkat akhir di tengah tantangan industri migas selama masa pandemi COVID-19. Secara persentase, porsi minyak bumi dalam bauran energi nasional menurun, seiring dengan peningkatan bauran energi terbarukan. Meski begitu, dari segi volume, konsumsi minyak relatif meningkat.

Kepala Bagian Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian ESDM, Ariana Soemanto mengungkapkan jika lulusan teknik perminyakan harus adaptif menanggapi perubahan situasi global.

"Mahasiswa dan alumni baru teknik perminyakan yang ingin memperdalam keilmuan energi terbarukan, kita bisa lakukan diskusi teknis dan kolaborasi lebih lanjut. Kementerian mendukung penuh peningkatan kapasitas SDM bidang energi," ujar Ariana dalam keterangan tertulis, Minggu (29/11/2020).

Terkait hal ini, Sekretaris Jenderal IAPT, Andika Rizki turut mengingatkan alumni dan mahasiswa untuk terus meningkatkan pengetahuan, sikap, serta keterampilan. Tentunya agar selalu siap berperan nyata dalam masyarakat, khususnya di industri migas.

"Alumni dan mahasiswa harus mengedepankan self empowerment, mengupayakan yang terbaik dari dirinya masing-masing. Terutama yang ada di industri oil and gas, agar bisa mendukung target produksi minyak 1 juta barel per hari," tambah alumni angkatan 1998 yang pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti.

Pembicara lainnya, Daniel Momos Panjaitan memberikan gambaran video berisi slide dan rekaman untuk para mahasiswa dan generasi muda untuk tidak menyerah di era disruptif ini.

"Kita harus mampu membuat rencana terbaik dan menganalisa apakah rencana tersebut sudah sesuai atau perlu adjustment sehingga bisa reliable di era informasi cepat dan job market saat ini. Kita wajib menguasai skill digital terlebih dengan implementasi teknologi 5G ke depan," ungkap profesional yang pernah berkecimpung di dunia eksplorasi migas selama 13 tahun di 8 negara berbeda.

Daniel pun memberikan paparan masa depan carbon tax dan kemungkinan aplikasi carbon capture storage atau pembuangan karbon secara injeksi pada dunia migas. Paparan yang menarik datang dari alumni teknik perminyakan Trisakti yang juga co-founder dari @nonakeyskitchen.

"Sebagai kaum intelektual terpelajar, baik mahasiswa dan ikatan alumni perminyakan trisakti harus bisa menjadi contoh untuk berkontribusi mendukung kemajuan bangsa dengan berani mengeluarkan setiap potensi dirinya baik di lingkungan industri perminyakan ataupun menjadi entrepreneur melalui membangun identitas brand, memahami trend dari konsumen dan siap berkolaborasi dengan sektor berbeda sekalipun," ungkap sarjana teknik yang sekarang fokus di dunia marketing dan branding.

Acara ini juga turut dihadiri oleh Ketua Umum IAPT Inge Sondaryani, yang mengungkapkan kebanggaannya pada alumni dan mahasiswa yang tetap semangat mewujudkan perannya di masyarakat.

(akn/ega)