Edhy Prabowo Ditangkap Kasus Lobster, Bagaimana Pengaruhnya ke Saraswati?

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 19:48 WIB
Anggota Komisi VIII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Sara)
Rahayu Saraswati. Foto: Dwi Andayani/detikcom
Jakarta -

Penangkapan Edhy Prabowo di kasus dugaan suap ekspor benur atau benih lobster diduga berdampak politis terhadap keikutsertaan Gerindra di Pilkada 2020. Salah satu yang terdampak adalah Calon Wakil Wali Kota Tangsel Rahayu Saraswati, yang sempat diserang isu serupa dan kini diungkit lagi. Seberapa besar dampaknya bagi Saras?

Isu kasus ekspor benur ini sempat menghantui Saras di awal pencalonan di Pilkada Tangsel. Di bulan Juli lalu, bersama ayahnya, pengusaha Hashim Djojohadikusumo, Saras meluruskan isu tersebut dengan menegaskan tak terlibat dalam ekspor benur.

Menurut Zainal Muttaqien dari Forum Literasi Demokrasi Tangsel, pasca penangpakan Edhy Prabowo, isu tersebut muncul santer lagi dikaitkan dengan Saras.

"Kini, setelah KPK menggelar OTT terhadap Edhy Prabowo, isu yang sempat membayangi pencalonan Saraswati sebagai wakil walikota kembali mencuat," kata Zainal kepada wartawan, Jumat (27/11/2020).

Zainal menilai naiknya isu kasus ekspor benur sedikit banyak akan berpengaruh terhadap elektabilitas Saras di Pilkada Tangsel. Menurutnya efek negatif sulit dihindari oleh Saras.

"Setelah kasus ini kembali mencuat, dan terkonfirmasi dengan penangkapan dan penetapan Edhy Prabowo sebagai tersangka, maka dengan sendirinya nama-nama yang sebelumnya dianggap memiliki keterkaitan kembali terseret," ulas Zainal.

Pada bulan Juli lalu, ramai pemberitaan perusahaan Hashim disebut mendapat izin ekspor oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpin Edhy. Namun Hashim, yang tampil bersama Saras, membantah penyebutan tersebut.

Video bantahan itu lah yang kembali diunggah oleh Saras di akun medsosnya. Dalam pernyataannya, Hashim menegaskan perusahaannya memperoleh izin budi daya lobster, bukan ekspor.

"Fokus utama PT Bima Sakti Mutiara adalah budi daya lobster, bukan ekspor. Selain lobster, ada juga budi daya teripang, kerapu, dll. Sampai saat ini PT Bumi Sakti Mutiara BELUM PERNAH melakukan ekspor benih lobster (benur)," tulis Saras di akun Facebooknya.

Pembelaan datang dari partai pengusungnya. Partai pengusung menegaskan pihak yang mengaitkan kasus Edhy dengan Saras melakukan fitnah. Namun bantahan partai pengusung ini dikritik.

Peneliti Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI) Rachmayanti Kusumaningtyas mengkritik sikap defensif partai pengusung Saras di pusaran isu ini. Seharusnya, kata dia, partai mendorong transparansi.

"Jangan karena figur yang didukungnya ada kaitan dengan kasus OTT KPK, lalu bersikap defensif. Harusnya partai tetap tegas dan keras pada korupsi. Partai akan mendapatkan simpati kalau berkata siapapun yang terkait wajib diusut. Justru kalau diusut, dan jelas misalnya tidak terlibat, kan clear, berarti Saraswati tidak terlibat," ujarnya.

(tor/tor)